MAKALAH
Penafsiran Imam Syafi’i Tentang Al-Qur’an
Diajukan
untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Studi Agama-agama
Dosen
mengampu:
Drs.
Syafi’in Mansur, MA
Di susun oleh :
Samsul Mu'arif ( 171320035 )
ILMU
AL-QUR'AN DAN TAFSIR
FAKULTAS
USULUDIN DAN ADAB ( UIN )
"
SULTAN MAULANA HASANUDIN " BANTEN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian
Al-Quran
Al-Quran
yang agung yang sejalan dengan kebijakan Allah tidak ada lagi di dunia ini
wahyu ilahi selain dia setelah lenyapnya atau bercampurnya kitab-kitab samawi
terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang di ciptakan mansuia, Al-Quran adalah
petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber sistem aturan tuhan bagi kehidupan,
jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran, dan keadilan,
sumber etika dan akhlak yang mesti di terapkan untuk meluruskan perjalanan
manusia dan memperbaiki perilaku manusia. Allah Swt berfirman :
مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ
“Tidaklah
kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)” (QS. Al-An’am [6]: 38)
Di
juga berfirman,
“dan
kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunujuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. An-Nahl [16]: 89)
Para
ulama ushul fiqh telah mendefinisikan, bukan karna manusia tidak mengenalnya,
melainkan untuk menentukan apa yang bacaannya terhitung sebagai ibadah, apa
yang boleh di baca dalam shalat dan apa yang tidak boleh; juga untuk
menjelaskan hukum-hukum syari’at ilahi yang berupa halal dan haram, dan apa
yang dapat di jadikan sebagai Hujjah dalam menyimpulkan hukum, serta apa
yang membuat orang yang mengingkarinya menjadi kafir dan apa yang tidak membuat
pengingkarnya menjadi kafir. Karna itu, para ulama berkata tentang Al-Quran
ini:
Al-Quran
adalah firman Allah Swt sebagai mukjizat, yang di turunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. dalam bahasa Arab, yang tertulis dalam mushaf, yang bacaannya
terhitung sebagai ibadah
yang di riwayatkan secara mutawatir,
yang di mulai dengan surah al-Fatihah, dan diakhiri dengan surah an-Naas.
Al-Quran
juga mempunyai sejumlah nama, antara lain: Al-Quran, al-Qitab, al-Mushaf,
an-Nuur, dan al-Furqaan
Dia
dinamakan Al-Quran karna dialah wahyu yang di baca. Sedangkan abu ‘Ubaidah
berkata: Dinamakan Al-Quran karena ia mengumpulkan dan menggabungkan surah-surah.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ
وَقُرْآنَهُ
“sesungguhnya
atas tangguhan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya.” (QS. Al-Qiyaamah [75]: 17)
Dia
dinamakan al-Mushaf, bentuk jama dari kata ash-shahiifah, yaitu selembar
kulit atau kertas yang di tulisi sesuatu. Konon, setelah mengumpulkan Al-Quran,
Abu Bakar ash-shidiq bermusyawarah dengan orang-orang tentang Namanya, lalu ia
menamainya al-Mushaf.
Dia
dinamakan al-Kitab, yang berasal dari kata al-katb yang artinya
pengumpulan, karna dia mengumpulkan (berisi) berbagai macam kisah, ayat, hukum,
dan berita dalam metode yang khas.
Dia
dinamakan an-Nuur (cahaya) karna dia menyingkap berbagai hakikat dan
menerangkan hal-hal yang samar (soal hukum halal-haram serta tentang hal-hal
ghaib yang tidak dapat di fahami nalar) dengan penjelasan yang absolut dan
keterangan yang jelas, Allah Ta’ala berfirman,
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari tuhanmu
(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang
terang benderang (Al-Quran).” (QS. an-Nisaa [4]: 174)
Dan
dinamakan al-Furqaan karna ia membedakan antara yang benar dan yang salah,
antara iman dan kekafiran, antara kebaikan dan kejahatan. Allah Ta’ala
berfirman,
“Maha
suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar
dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS.
al-Furqaan [25]: 1).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran
Al-Quran Dalam Kitab Suci Al-Quran
Al-Quran
merupakan kitab yang Allah turunkan kepada Nabi besar Muhammad Saw yang
membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah di
tetapkan Allah dan Al-Quran tidak ada keraguan padanya, Firman Allah Swt,
وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ
أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ
وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37) أَمْ
يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ
اسْتَطَعْتُمْ مِنْ َ (38) دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين
“Tidaklah mungkin Al-Quran ini dibuat-buat oleh selain
Allah; akan tetapi (Al-Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya
dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di
dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad
membuat-buatnya.” Katakanlah: "(Kalau benar yang kalian katakan itu), maka
cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang
dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kalian
orang-orang yang benar.” (QS. Yunus [10]: 37-38).
Dan Al-Quran juga merupakan kitab suci yang Allah turunkan
kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, firman Allah Swt.
وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(192) نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ
الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
“seungguhnya Al-Quran ini benar-benar di turunkan oleh
rabb semesta alam, yang di bawa trurun oleh jiwa yang damai (Jibril), kedalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang
memberi peringatan dengan Bahasa arab yang jelas.” (QS. asy-Syu’ara [26]:
192-195)
Baihaqi berkata, lalu pembicaraan sampai pada kalimat, “Imam
Syafi’i berkata, ‘Al-Quran menunjukan bahwa tidak ada sesuatupun dalam kitab
Allah, kecuali dengan (menggunakan) Bahasa arab. Allah Swt berfirman,
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
“dengan Bahasa arab yang jelas” (QS. asy-Syu’ara [26]:
192-195)
Dengan ayat
ini, Allah Swt memberikan Hujjah bahwa kitab-Nya itu menggunakan bahasa
Arab, sekaligus dia menegaskan penafian pada semua Bahasa pada selain bahasa
Arab dalam dua ayat dari kitab-Nya.
Selin itu juga Allah menggambarkan dalam Al-Quran bahwasanya
Al-Quran itu sebagai petunjuk bagi umat manusia yang bertakwa kepada Allah dan
tidak ada keraguan di dalam Al-Quran, firman Allah Swt.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ
فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Baqaarah [01] : 02)
Ayat ini menerangkan bahwa Al-Quran tidak dapat di ragukan,
karena ia wahyu Allah Swt yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saw Nabi yang
terakhir dengan perantara Jibril a.s. firman Allah Swt.
وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ
الْعَالَمِينَ (192) نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ (193)
“seungguhnya Al-Quran ini benar-benar di turunkan oleh
rabb semesta alam, yang di bawa trurun oleh jiwa yang damai (Jibril).” (QS.
asy-Syu’ara [26]: 192-195)
Yang di maksud “Al-Kitab” (wahyu) di sini ialah Al-Quran. Di
“sebut Al-Kitab” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus di tulis, karna itu Nabi
Muhammad Saw memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.
Al-Quran merupakan bimbingan bagi orang yang bertakwa, sehingga
dia berbahagia hidup di dunia dan akhirat. Orang yang bertakwa ialah oaring
yang memelihara dan menjaga dirinya dari arab Allah dengan selalu melaksanakan
perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan orang tersebutlah
yang akan mendapat petunjuk dari Allah Swt.
B. Penafsiran
Imam Syafi’i Tentang Al-Quran
1. Al-Quran Ialah Kalam Allah Yang
Haq
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا
وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ
أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ (91)
كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“dan apabila dkatakan
kepada mereka, “berimanlah kepada Al-Quran yang di turunkan Allah,” mereka
berkata, “kamihanya beriman kepada apa yang di turunkan kepada kami.” Dan
mereka kafir kepada Al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Quran itu
adalah (kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah,
:mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang
yang beriman.?” (QS. Al-Baqarah [2]: 91)
Allah Swt berfirman, “dan
apabila dikatakan kepada mereka,” yakni kepada orang-orang yahudi dan
semisal dengan mereka dari kalangan ahli kitab, “berimanlah kepada Al-Quran
yang di turunkan Allah,” kepada Nabi Muhammad Saw percayalah kepadanya, dan
ikutilah dia. Mereka berkata, “kami hanya beriman kepada apa yang di turunkan
kepada kami.” Maksudnya, cukup bagi kami beriman kepada kitab taurat dan
injil yang di turunkan kepada kami, dan kami tidak menguasai selain itu. Mereka
kafir kepada Al-Quran yang diturunkan sesudahnya, yakni sesudah kitab-kitab
tersebut.
Padahal kitab Al-Quran itu
adalah kitab yang Haq, yang membenarkan apa yang ada apada mereka; yakni mereka
mengetahui bahwa kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah perkara
yang Haq yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
2. Al-Quran di Turunkan Kepada Nabi
Muhammad Saw
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا
بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا (23) شُهَدَاءَكُمْ
مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kamu
(tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami
(Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS.
Al-Baqarah [2]: 23)
Yang dimaksud dengan hamba ialah
Nabi Muhammad Saw. Maka datangkanlah sebuah surat yang semisal dengan apa yang
didatangkan olehnya. Apabila kalian menduga bahwa Al-Quran itu bukan dari sisi
Allah Swt, maka tantanglah Al-Quran dengan hal yang semisal dengan apa yang
didatangkan olehnya.mintalah pertolongan kepada orang-orang yang kalian
kehendaki selain Allah, karna sesungguhnya kalian pasti tidak akan mampu
melakukan hal tersebut. Menurut ibnu abbas, syuhada-kum artinya
penolong-penolong kalian.
3. Al-Quran di Turunkan Dengan Bahasa
Arab
Imam Syafi’i mengatakan, Allah Swt
dengan tegas telah menyampaikan Hujjah-Nya bahwa Al-Quran di turunkan
dalam bahasa Arab, pada semua ayat yang telah kami sajikan.
Dia kemudian menegaskan hal ini dengan menafikan dengan semua bahasa non-Arab
dalam dua ayat dari kitab-Nya.
Pertama, Allah Swt berfirman,
وَلَقَدْ نَعْلَمُ
أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ
إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ
(103) عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
“sesungguhnya kami mengetahui
bahwa mereka berkata, ‘sesungguhnya AL-Quran di ajarkan oleh seorang manusia
kepadanya (Muhammad),’ padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa)
Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘Ajam (non-Arab), sedang Al-Quran
dalam bahasa Arab yang jelas.” (QS. an-Nahl [16]: 103)
Kedua, Dia juga berfirman,
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ
آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى
وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ
(44) وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ
أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيد
“jikalau kami jadikan Al-Quran
itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, ‘mengapa
tidak di jelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing
sedang (Rasulullah adalah orang) Arab?” (QS. Fushilat [41]: 44)
Imam Syafi’i berkata, ‘salah
seorang dari mereka mengatakan, di dalam Al-Quran terdapat bagian yang
berbahasa Arab dan adapula yang berbahasa non-Arab (‘Ajamiyy). ‘
Al-Quran mengisyaratkan bahwa pesan kitab Allah Swt hanya menggunakan bahasa
Arab. Orang yang berpendapat demiakian hanya ikut-ikutan saja, tanpa Hujjah,
dan tidak bertanya kepada orang yang berpendapat lain. Akibat taklid tersebut,
mereka lalai. Semoga Allah Swt mengampuni kami dan juga mereka.
Bisa jadi orang yang berpendapat
bahwa Al-Quran memuat bahasa non- Arab dan itu bersumber darinya atau
berpendapat bahwa dalam Al-Quran terdapat kosakata khusus yang sebagiannya tidak
di ketahui oleh bangsa Arab sendiri. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang
paling luas teorinya dan sangat kaya akan kosa kata setahu kami, hanya seorang
Nabi yang menguasai seluruh cabang keilmuan bahasa Arab. Akan tetapi, Al-Quran
tidak melupakan sedikitpun bentuk umumnya sehingga tidak di temukan orang yang
tidak mengenalnya. Bagi bangsa Arab, pengetahuan mengenai bahasa Arab sama seperti pengetahuan ahli fiqih
tentang as-Sunah. Kami tidak pernah tau ada orang yang menghimpun as-Sunnah
lalu dia tidak lupa sedikitpun tentangnya. Jika pengetahuan sebagian besar
ulama tentang as-Sunah di himpun, maka akan menghasilkan as-Sunah yang lengkap.
Sebaliknya jika pengetahuan masing-masing ulama di pisahkan, maka sebagian
kecil as-sunah akan terlupakan, kemudian as-Sunah yang terlupakan itu di
temukan pada ulama yang lain.
Imam Syafi’i mengatakan, “jika
seorang bertanya, ‘terkadng kami menemukan orang non-Arab yang mengucapkan
suatu bahasa Arab? Pertanyaan ini mirip dengan uraianku bahwa dia
mempelajarinya dari orang-orang Arab. Jika tidak termasuk orang yang
mempelajari bahasa Arab dari bangsa Arab, pasti dia hanya mengucapkan sedikit
saja. Orang yang hanya mengucapkan sedikit kata berbahasa Arab berarti dia
mengikuti bahasa Arab. Kami tidak memungkiri bahwa ada kemungkinan kesesuaian
sedikit kosajata non-Arab dengan kosa kata arab, terdapat sedikit kosakata
non-Arab yang bertentangan dengan sebagian besar kosa kata Arab, meskipun
negerinya saling berjauhan dan bahasanya berbeda satu sama lain.
Jika seorang bertanya. ‘apa
argument bahwa Al-Quran murni menggunakan bahasa Arab tanpa tercampuri oleh
bahasa lain? Argumennya adalah Al-Quran. Allah berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا
بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ ‘Kami
tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya.’ (QS.
Ibrahim [14]: 4).
4. Al-Quran di Turunkan Pada Bulan
Suci Ramadhan
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ
مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ
بِكُمُ الْعُسْرَ (185) وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang
siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”
(QS. Al Baqarah [2]: 185).
Imam Syafi’i mengatakan, “barang siapa tidak
berpuasa selama berhari-hari pada bulan Ramdhan karna halangan tertentu,
(seperti sakit atau perjalanan jauh) maka hendaklah dia mengqadhanya kapan
ajah, baik pada bulan Dzul Hijjah maupun bulan lainnya, sampai tiba pada bulan
Ramadhan selanjutnya. Boleh secara terpisah maupun berturut-turut. Allah Swt
berfirman, (فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ)
“maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang di tinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain.”.
Allah swt tidak menyebutkan bahwa mengqadha’
puasa harus secara berturut-turut. Lagipula, beberapa sahabat Nabi memberi tahu
kami bahwa beliau bersabda, yang artinya
“apabila kamu menghitung bilangannya, maka
berpuasalah sejumlah itu dengan cara apapun sekehendakmu.”
Dengan demikian, jika orang yang tidak
berpuasa pada bulan Ramadhan itu karna sakit atau melakukan perjalanan jauh dan
tidak kunjung sembuh atau tidak juga mampuh berpuasa sampai tiba Ramadhan
berikutnya, maka dia harus mengqadha’ puasanya tanpa membayar kafarat. Namun,
jika ia tidak mengqadha’ puasanya, padahal memungkinkanbaginya untuk berpuasa,
sampai tiba Ramadhan berikutnya, maka dia harus berpuasa pada bulan Ramadhan
yang tiba itu dan mengqadha’ puasanya sekaligus membayar kafarat satu mudd
setiap harinya.”
Imam Syafi’i mengatakan, Allah Swt berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ
الْقُرْآنُ
‘Bulan Ramadhan adalah bulan yang di
dalamnya di turunkan (permulaan) al-Quran.’ (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Allah Swt menginformasikan ketentuan waktunya
dengan bulan sabit, juga menentukan waktu hari-harinya dari bulan sabit. Dia
tidak pernah menjadikan suatu informasi bagi umat islam selain dengannya.
Dengan demikian, barangsiapa menginformasikan lain dari itu mka dia
menginformasikan hal yang berbeda dari yang di informasikan oleh-Nya. Wallahu
a’lam.’
Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Imam Syafi’i
“berkenaan dengan bulan Ramadhan, Allah Swt berfirman, (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ)
‘Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan
Allah atas petunjuk-Nya yang di berikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah
[2]: 185)
Rasulullah Saw bersabda, yang artinya.
“jangan berpuasa sebelum kalian melihatnya
dan jangan berhenti puasa sebelum kalian melihatnya.’
Artinya adalah bulan sabit, jika pandangan
kalian tertutup awan, maka genapkanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari.
Imam Syafi’i mengatakan, “Allah Swt berfirman
mengenai bulan Ramadhan,( وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) ‘Hendaklah kalian
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang di berikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Aku mendengar ulam al-Quran yang aku sukai
mengatakan, (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ)
‘Hendaknya kalian mencukupkan bilangannya.’ Yaitu bilangan puasa pada
bulan Ramadhan. (وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ)
‘Hendaklah kalian mengagungkan Allah,’ berarti pada saat bulan itu
sempurna atas petunjuk yang di berikan-Nya kepada kalian. Penyempurnaannya
adalah terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan.
Imam Syafi’i melanjutkan, “ alangkah serupa
pendapatnya dengan firman-Nya. Wallahu ‘alam.
5. Al-Quran Pedoman dan Peringatan
Bagi Umat Manusia
(01)
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ
لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha suci Allah yang telah
menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi
peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS. Al-Furqan [25]: 1)
Imam Syafi’i
berkata, “malik mengabarkan kepada kami, dari ibnu Syibah, dari Urwah, dari
Abdurrahman bin Abdul Qari, dia mendengar umar bin Khatab r.a berkata, ‘aku
mnedengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan tidak sama dengan
bacaanku, sedangkan Rasulullah Saw pernah membacakannya kepadaku, maka seketika
itu aku menanyakannya. Aku bersikap ramah kepadanya hingga dia menghindar
dariku. Stelah itu, aku menarik bajunya (labbabtuhubi
rida’ihi) dan membawanya kehadapan Rasulullah Saw. Lalu aku berkata, ‘Wahai
Rasulullah Saw, aku mendengar orang ini membaca surah al-Furqan ridak sama
dengan bacaan yang pernah engkau bacakan kepadaku?’ Rasulullah Saw kemudian
berkata kepada Hisyam,
‘Bacalah!’ اقْرَأ
Hisyam pun
membaca surah itu sebagaimana yang ku dengar. Kemudian Rasulullah Saw bersabda,
‘Demikianlah bacaan surah itu di
turunkan’ هكذا أنزلت
Kemudian
Rasulullah Saw juga berkata kepadaku,
‘Bacalah!’ اقْرَأ
Aku pun
membacanya. Lalu Rasulullah Saw bersabda, yang artinya,
“demikianlah
bacaan surah itu di turunkan, sesungguhnya Al-Quran ini di turunkan atas tujuh
bacaan, maka bacalah yang mudah darinya.’”
Imam Syafi’i berkata, “karna sifat maha lembut Allah Swt
kepada makhluk-Nya, dia menurunkan kitab-Nya dengan tujuh macan bacaan sebagai
pemberitahuan dari-Nya bahwa hafalan bisa jadi hilang, dan agar ragam bacaan
itu di kenal mereka, walaupun hafalannya berbeda, tetapi tidak sampai mengubah
makna. Tentunya kitab-kitab selain Al-Quran lebh patut untuk mengalami
perbedaan hafalannya, selama tidak sampai mengubah maknanya, dan perbedaan lafal dalam kitab
yang tidak ada kandungan hukumnya, tidak akan sampai mengubah maknanya.
Sebagian
tabi’in berkata, ‘aku telah bertemu Anas, salah seorang sahabat Rasulullah Saw.
Mereka semua satu pendapat dalam makna, tetapi berbeda denganku dalam hal
hafal.’
Lalau aku laporkan kejadian itu pada sebagian tabi’in
yang lain. Dia berkata, ‘Tidak maslah, selagi tidak mengubah makna.’
6. Al-Quran Terjaga Kemurniannya
Allah Swt berfirman,
(09) إِنَّا نَحْنُ
نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“sesunguhnya
kami-lah yang telah menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya kam benar-benar
memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)
Ayat
ini sebagai bantahan atas ucapan mereka yang meragukan sumber datangnya
Al-Quran. Karena itu, ia dikuatkan dengan kata sesungguhnya dan dengan
menggunakan kata Kami, yakni Allah Swt. Yang memerintahkan malaikat
Jibril as. Sehingga, dengan demikian, kami menurunkan adz-Dzikr, yakni
Al-Quran yang kamu ragukan itu, dan sesungguhnya kami juga Bersama semua
kaumuslimin benar-benar baginya,yakni bagi Al-Quran, adalah yang
akan menjadi para pemelihara otentisitas dan kekekalannya.
Imam syafi’i berkata, “Allah Swt menurunkan
kitab-Nya kepada Rasulullah Saw dan dia berfirman,
(41). إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖوَإِنَّهُ
لَكِتَابٌ عَزِيزٌ
(42). لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ
ۖتَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“sesungguhnya orang-orang yang
mengigkari Al-Quran ketika Al-Quran itu datang kepada mereka (bahwa mereka itu pasti
akan celaka). Sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia, yang tidak
datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang,
yang di turunkan dari Rabb yang maha bijak sana lagi maha terpuji.” (QS.
Fushilat [41]: 41-42).
Lalau Allah Swt memindahkan mereka
(fanaqaluhum)
dari kekufuran dan kebutaan menuju cahaya dan petunjuk. Dia pun menjelaskan apa
saja yang di halalkan dari karunia-Nya yang tersebar (mannan bi at-tawsi’ah)
kepada semua makhluk-Nya, dan juga menjelaskan apa yang di haramkan, karena Dia
lebih tau akan kebahagiaan mereka di akhirat dan dunia jika mereka meninggalkan
apa yang di haramkan itu (fil al-kaff ‘anhu).
Allah Swt juga menguji ketaatan
mereka melalui ibadah mereka dalam bentuk ucapan, tindakan, ataupun menahan
diri dari hal-hal yang di haramkan dia juga memberikan balasan kepada mereka
atas ketaatan kepada-Nya, betapa agung nikmat-Nya. Dia memberi tahu mereka
mengenai balasan yang akan diterima oleh para pelaku maksiat yang tidak sama
dengan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang taat.
7. Al-Quran Isi Kandungannya
Universal
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ
أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ (89) لِلْمُسْلِمِينَ
“(ingatlah) akan hari (ketika)
kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka
sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas atas seluruh umat
manusia. Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)
Ar-Rabi’
memberi tahu kami, katanya, Imam Syafi’i mengatakan, “segala puji bagi Allah
Saw atas semua nikmat-Nya karna dia memang layak mentandangnya. Aku bersaksi
bahwa tiada Illah selain Allah semata, yang tiada selutu bagi-Nya, dan Muhammad
adalah hamba dan sekaligus utusan-Nya. Dia telah mengutus beliau dengan di bekali
sebuah kitab mulia, yang tidak mungkin bisa dirasuki oleh kebatilan, dari arah
depan maupun belakang. Sebuah kitab suci yang diturunkan oleh Dzat yang maha
bijak sana lagi maha terpuji. Dengan Kitab-Nya itu, dua memberi petunjuk.
Kemudian melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad Saw dia memberitahukan berbagai
nukmat yang telah dia limpahkan, serta menegakkan Hujjah atas semua
makhluk-Nya, agar semua tidak memiliki Hujjah atas Allah Swt setelah
pengutusan para rasul, Dia pun berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى
وَرَحْمَةً
“Kami
turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat” (QS. An-Nahl [16]: 89)
Imam Syafi’i mengatakan,
“seseorang yang menyandarkan dirinya kepada ilmu madzhab rekan-rekannya
mengatakan kepadaku, ‘ada orang arab, al-Quran pun turun dalam bahasa Arab.
Tentunya anda juga mengetahui tentang pemeliharaannya. Didalamnya terkandung
berbagai kewajiban yang diturunkan oleh Allah Swt. Seandainya seorang meragukan
karna menganggap ada satu huruf saja dari Al-Quran yang palsu maka anda akan
memintanya supaya bertaubat. Jika mau bertaubat, anda akan memaafkannya, dan
jika mau, anda akan menjatuhi hukuman mati padanya. Sementara Allah Saw sendiri
telah Berfirman dalam Al-Quran, (تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ) ‘untuk menjelaskan segala sesuatu.’
Imam Syafi’i
mengatakan, “ tidak ada suatu perkara pun menimpa seorang pemeluk agama Allah
Swt, melainkan sudah ada petunjuk mengenai hal tersebut didalam kitab-Nya,
Allah Swt berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى
وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
‘Kami
turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri’
(QS. An-Nahl [16]: 89)
Abu Abdillah
al-Hafidz memberi tahu kami, Abu al-Abbas memberi tahu kami, ar-Rabi’ bercerita
kepada kami, Imam Syafi’i mengatakan, “Allah Swt menciptakan manusia
berdasarkan ilmu-Nya tentang tujuan penciptaan mereka. Dia pun menurunkan
Al-Quran bagi mereka,
تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
‘untuk
menjelaskansegala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri’ didalam kitab tersebut, dia telah
mewajibkan beberapa kewajiban permanen, yang sebagian lagi dia nasakh, sebagai
rahmat sekaligus keringanan bagi makhluk-Nya. Selain itu juga dimaksudkan untuk
memberi kelapangan kepada mereka, menambah nikmat serta melipatgandakan paha
bagi mereka, berupa surge dan keselamatan dari adzab-Nya. Dengan demikian, dia
telah menebarkan rahmat melalui apa yang dia tetapkan dan nasakh. Segala puji
hanya bagi-Nya atas segala nikmat-Nya.
8. Keistimewaan dan Keagungan Al-Quran
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ
يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ
لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
(48) فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“kami telah
turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebeblumnya, yaitu kitab-kitab (yang di turunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa
yang Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di
antara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Allah
hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kalian semua kembali,
lalu dia beri tahukan kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.”
(QS. Al-Mai’dah [5]: 48)
Abu Sa’ad bin
Abu Abru mengabarkan kepada kami, Abdul Abas telah mengabarkan kepada kami, dia
berkata, “Ar-Rabi’ menggambarkan kepada kami, dia mengatakan bahwa Imam Syafi’i
berkata mengenai firman Allah Swt,
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
‘janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu mereka.’ Ayat ini mengandung ketidak pedulian,
terlalu toleran, dan tidak menerapkan ketentuan hukum. Pengertian lain dari
ayat ini mereka mengikuti hawa nafsunya. Kedua bentuk hawa nafsu ini di larang.
Rasulullah Saw di perintahkan untuk memutuskan perkara di antara mereka
berdasarkan ketentuan yang di turunkan Allah Swt.
Al-Azhari
berkata, “ Allah berfirman, (لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا)
‘untuk tiap-tiap umat di antara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang
terang.’ Yaitu jalan yang jelas dimana kita di perintahkan untuk konsisten
di sana. Orang Arab berkata, ‘syara’a as-salikh ihaba adz-dzabihah, (tukang
jagal itu memotong bagian antara kedua kaki belakang hewan sembelihan dan
mengulitinya.).’
Syara’ artinya
penjelasan. Allah Swt adalah penjelas (syari’) agama kepada hamba-Nya.
Tidak seorang pun yang berhak menjelaskan sesuatu yang bukan berasal dari
agama, kecuali jika Nabi Saw menjelaskan hal tersebut atas perintah Allah Swt.
Karena penjelasan Nabi Saw merupakan penjelasan Allah Swt.
Sebagian ahli
bahasa berpendapat mengenai firman Allah Swt, (لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ
شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا) ‘‘untuk tiap-tiap umat di antara
kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang.’ Syari’ah yang
berawal dari sebuah jalan, sedangkan Minhaj menunjukan arti sebagian
besar jalan.
9. Berbagai Hikmah di Turunkan
Al-Quran
Imam Syafi’i berkata, Allah Swt berfirman,
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ
زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا
(124) الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُون
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ
رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا
(125) وَهُمْ كَافِرُونَ
“apabila di
turunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang
berkata, ‘siapakah diantara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya)
surah ini?’ adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya
dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang didalah hatinya ada penyakit,
maka dengan surah ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang
telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah [9]:
124-125)
Allah juga
berfirman, (إنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى) ‘sesungguhnya
mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami
tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13)
Imam Syafi’i berkata, “ seandainya
semua iman itu sama, tidak berkurang dan tidak bertambah, tentu tidak ada orang
yang lebih utama dari yang lain; semua manusia sama; dan hukum keutamaan pun
batal. Akan tetapi, dengan kesempurnaan iman, kaum mukinin masuk surga, dan
dengan bertambahnya iman, kaum mukminin mendapatkan derajat yang tinggi di
hadapan Allah Swt di surge. Sebaiknya, sebab kurangnya keimanan, orang-orang
yang membangkang masuk neraka.”
Imam Syafi’i
berkata, “sebenarnya Allah Swt memperlombakan hama-hamba-Nya seperti
memperlombakan kuda pacuan. Mereka di tempatkan menurut tingkat kecepatan dalam
perkombaan itu, hak setiap orang tidak akan dikurangi sedikit pun. Dia tidak
akan mengutamakan orang yang lamban di atas orang yang cepat, tidak pula orang
yang rendah di atas orang yang mulia. Oleh sebab itu, Allah Swt memulyakan umat
islam yang awal daripada yang akhir. Seandainya orang yang lebih dulu beriman
tidak lebih mulya dibandingkan yang beriman belakangan, pasti umat muslim yang
terakhir menjadi umat termulya.”
Imam Ahmad bin
Hambal berkata, “saya berpendapat maslah keimanan (seperti di ungkapkan Ibnu
Ubaid) lebih luas dari ini. Jika kedua kisah tersebut benar, maka bisa jadi Abu
Ubaid mengambil pendapat itu dari Imam Syafi’i kemudian diberi keterangan
tambahan olehnya. Tampaknya pendapat ini (Abu Ubaid) sejalan dengan pendapat
itu (Imam Sayfi’i). Wallahu a’lam.”
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Saya mengambil kesimpulan bahwa Al-Quran adalah
firman Allah Swt yang berbahasa Arab. Diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk
dipahami isinya, disampaikan kepada kita secara Mutawatir, ditulis dalam mushaf
dimulai dengan surat Al-Fatihan dan di Akhiri dengan Surat An-Nas.
Al-Quran
yang agung ini sejalan dengan kebijakan Allah tidak ada lagi di dunia ini wahyu
ilahi selain dia setelah lenyapnya atau bercampurnya kitab-kitab samawi
terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang di ciptakan mansuia, Al-Quran adalah
petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber sistem aturan tuhan bagi kehidupan,
jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran, dan keadilan,
sumber etika dan akhlak yang mesti di terapkan untuk meluruskan perjalanan
manusia dan memperbaiki perilaku manusia. Allah Swt berfirman :
مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ
“Tidaklah
kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)” (QS. Al-An’am [6]: 38)
Di juga berfirman,
“dan
kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunujuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. An-Nahl [16]: 89)
Al-Quran
sebagai mukjizat terbesar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui
malaikat Jibril as. Yang mencakup:
1. Al-Quran Ialah Kalam Allah Yang
Haq
2. Al-Quran di Turunkan Kepada Nabi
Muhammad Saw
3. Al-Quran di Turunkan Dengan Bahasa
Arab
4. Al-Quran di Turunkan Pada Bulan
Suci Ramadhan
5. Al-Quran Pedoman dan Peringatan
Bagi Umat Manusia
6. Al-Quran Terjaga Kemurniannya
7. Al-Quran Isi Kandungannya
Universal
8. Keistimewaan dan Keagungan Al-Quran
9. Berbagai Hikmah di Turunkan
Al-Quran