Minggu, 03 Juni 2018

Penafsiran Imam Syafi’i Tentang Al-Qur’an


MAKALAH
Penafsiran Imam Syafi’i Tentang Al-Qur’an
Diajukan untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Studi Agama-agama
Dosen mengampu:
Drs. Syafi’in Mansur, MA


                                                                    Di susun oleh :

                                                       Samsul Mu'arif ( 171320035 )                             





ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USULUDIN DAN ADAB ( UIN )
" SULTAN MAULANA HASANUDIN " BANTEN
2018


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pengertian Al-Quran
Al-Quran yang agung yang sejalan dengan kebijakan Allah tidak ada lagi di dunia ini wahyu ilahi selain dia setelah lenyapnya atau bercampurnya kitab-kitab samawi terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang di ciptakan mansuia, Al-Quran adalah petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber sistem aturan tuhan bagi kehidupan, jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran, dan keadilan, sumber etika dan akhlak yang mesti di terapkan untuk meluruskan perjalanan manusia dan memperbaiki perilaku manusia. Allah Swt berfirman :
مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ
Tidaklah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)” (QS. Al-An’am [6]: 38)
            Di juga berfirman,
dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunujuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)
Para ulama ushul fiqh telah mendefinisikan, bukan karna manusia tidak mengenalnya, melainkan untuk menentukan apa yang bacaannya terhitung sebagai ibadah, apa yang boleh di baca dalam shalat dan apa yang tidak boleh; juga untuk menjelaskan hukum-hukum syari’at ilahi yang berupa halal dan haram, dan apa yang dapat di jadikan sebagai Hujjah dalam menyimpulkan hukum, serta apa yang membuat orang yang mengingkarinya menjadi kafir dan apa yang tidak membuat pengingkarnya menjadi kafir. Karna itu, para ulama berkata tentang Al-Quran ini:
Al-Quran adalah firman Allah Swt sebagai mukjizat[1], yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dalam bahasa Arab, yang tertulis dalam mushaf, yang bacaannya terhitung sebagai ibadah[2] yang di riwayatkan secara mutawatir[3], yang di mulai dengan surah al-Fatihah, dan diakhiri dengan surah an-Naas.
Al-Quran juga mempunyai sejumlah nama, antara lain: Al-Quran, al-Qitab, al-Mushaf, an-Nuur, dan al-Furqaan[4]
Dia dinamakan Al-Quran karna dialah wahyu yang di baca. Sedangkan abu ‘Ubaidah berkata: Dinamakan Al-Quran karena ia mengumpulkan dan menggabungkan surah-surah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
sesungguhnya atas tangguhan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS. Al-Qiyaamah [75]: 17)
Dia dinamakan al-Mushaf, bentuk jama dari kata ash-shahiifah, yaitu selembar kulit atau kertas yang di tulisi sesuatu. Konon, setelah mengumpulkan Al-Quran, Abu Bakar ash-shidiq bermusyawarah dengan orang-orang tentang Namanya, lalu ia menamainya al-Mushaf.
Dia dinamakan al-Kitab, yang berasal dari kata al-katb yang artinya pengumpulan, karna dia mengumpulkan (berisi) berbagai macam kisah, ayat, hukum, dan berita dalam metode yang khas.
Dia dinamakan an-Nuur (cahaya) karna dia menyingkap berbagai hakikat dan menerangkan hal-hal yang samar (soal hukum halal-haram serta tentang hal-hal ghaib yang tidak dapat di fahami nalar) dengan penjelasan yang absolut dan keterangan yang jelas, Allah Ta’ala berfirman,
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Quran).” (QS. an-Nisaa [4]: 174)
Dan dinamakan al-Furqaan karna ia membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kekafiran, antara kebaikan dan kejahatan. Allah Ta’ala berfirman,
Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS. al-Furqaan [25]: 1).[5]









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Gambaran Al-Quran Dalam Kitab Suci Al-Quran
Al-Quran merupakan kitab yang Allah turunkan kepada Nabi besar Muhammad Saw yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah di tetapkan Allah dan Al-Quran tidak ada keraguan padanya, Firman Allah Swt,
وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ َ (38) دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين
Tidaklah mungkin Al-Quran ini dibuat-buat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: "(Kalau benar yang kalian katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.” (QS. Yunus [10]: 37-38).
Dan Al-Quran juga merupakan kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, firman Allah Swt.
وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
seungguhnya Al-Quran ini benar-benar di turunkan oleh rabb semesta alam, yang di bawa trurun oleh jiwa yang damai (Jibril), kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan Bahasa arab yang jelas.” (QS. asy-Syu’ara [26]: 192-195)
Baihaqi berkata, lalu pembicaraan sampai pada kalimat, “Imam Syafi’i berkata, ‘Al-Quran menunjukan bahwa tidak ada sesuatupun dalam kitab Allah, kecuali dengan (menggunakan) Bahasa arab. Allah Swt berfirman,
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
dengan Bahasa arab yang jelas” (QS. asy-Syu’ara [26]: 192-195)
Dengan ayat ini, Allah Swt memberikan Hujjah bahwa kitab-Nya itu menggunakan bahasa Arab, sekaligus dia menegaskan penafian pada semua Bahasa pada selain bahasa Arab dalam dua ayat dari kitab-Nya.[6]
Selin itu juga Allah menggambarkan dalam Al-Quran bahwasanya Al-Quran itu sebagai petunjuk bagi umat manusia yang bertakwa kepada Allah dan tidak ada keraguan di dalam Al-Quran, firman Allah Swt.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Baqaarah [01] : 02)
Ayat ini menerangkan bahwa Al-Quran tidak dapat di ragukan, karena ia wahyu Allah Swt yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Saw Nabi yang terakhir dengan perantara Jibril a.s. firman Allah Swt.
وَإِنَّهُ لَتَنزيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نزلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ (193)
seungguhnya Al-Quran ini benar-benar di turunkan oleh rabb semesta alam, yang di bawa trurun oleh jiwa yang damai (Jibril).” (QS. asy-Syu’ara [26]: 192-195)
Yang di maksud “Al-Kitab” (wahyu) di sini ialah Al-Quran. Di “sebut Al-Kitab” sebagai isyarat bahwa Al-Quran harus di tulis, karna itu Nabi Muhammad Saw memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Al-Quran.
Al-Quran merupakan bimbingan bagi orang yang bertakwa, sehingga dia berbahagia hidup di dunia dan akhirat. Orang yang bertakwa ialah oaring yang memelihara dan menjaga dirinya dari arab Allah dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan orang tersebutlah yang akan mendapat petunjuk dari Allah Swt.[7]

B.     Penafsiran Imam Syafi’i Tentang Al-Quran
1.      Al-Quran Ialah Kalam Allah Yang Haq
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ (91) كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
     dan apabila dkatakan kepada mereka, “berimanlah kepada Al-Quran yang di turunkan Allah,” mereka berkata, “kamihanya beriman kepada apa yang di turunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada Al-Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Quran itu adalah (kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, :mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman.?(QS. Al-Baqarah [2]: 91)
     Allah Swt berfirman, “dan apabila dikatakan kepada mereka,” yakni kepada orang-orang yahudi dan semisal dengan mereka dari kalangan ahli kitab, “berimanlah kepada Al-Quran yang di turunkan Allah,” kepada Nabi Muhammad Saw percayalah kepadanya, dan ikutilah dia. Mereka berkata, “kami hanya beriman kepada apa yang di turunkan kepada kami.” Maksudnya, cukup bagi kami beriman kepada kitab taurat dan injil yang di turunkan kepada kami, dan kami tidak menguasai selain itu. Mereka kafir kepada Al-Quran yang diturunkan sesudahnya, yakni sesudah kitab-kitab tersebut.
     Padahal kitab Al-Quran itu adalah kitab yang Haq, yang membenarkan apa yang ada apada mereka; yakni mereka mengetahui bahwa kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah perkara yang Haq yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
2.      Al-Quran di Turunkan Kepada Nabi Muhammad Saw
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا (23) شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 23)
Yang dimaksud dengan hamba ialah Nabi Muhammad Saw. Maka datangkanlah sebuah surat yang semisal dengan apa yang didatangkan olehnya. Apabila kalian menduga bahwa Al-Quran itu bukan dari sisi Allah Swt, maka tantanglah Al-Quran dengan hal yang semisal dengan apa yang didatangkan olehnya.mintalah pertolongan kepada orang-orang yang kalian kehendaki selain Allah, karna sesungguhnya kalian pasti tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Menurut ibnu abbas, syuhada-kum artinya penolong-penolong kalian.
3.      Al-Quran di Turunkan Dengan Bahasa Arab
Imam Syafi’i mengatakan, Allah Swt dengan tegas telah menyampaikan Hujjah-Nya bahwa Al-Quran di turunkan dalam bahasa Arab, pada semua ayat yang telah kami sajikan[8]. Dia kemudian menegaskan hal ini dengan menafikan dengan semua bahasa non-Arab dalam dua ayat dari kitab-Nya.
Pertama, Allah Swt berfirman,                      
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ
(103) عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘sesungguhnya AL-Quran di ajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad),’ padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘Ajam (non-Arab), sedang Al-Quran dalam bahasa Arab yang jelas.” (QS. an-Nahl [16]: 103)
Kedua, Dia juga berfirman,
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ
(44) وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيد  
jikalau kami jadikan Al-Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, ‘mengapa tidak di jelaskan ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasulullah adalah orang) Arab?” (QS. Fushilat [41]: 44)
Imam Syafi’i berkata, ‘salah seorang dari mereka mengatakan, di dalam Al-Quran terdapat bagian yang berbahasa Arab dan adapula yang berbahasa non-Arab (‘Ajamiyy). ‘ Al-Quran mengisyaratkan bahwa pesan kitab Allah Swt hanya menggunakan bahasa Arab. Orang yang berpendapat demiakian hanya ikut-ikutan saja, tanpa Hujjah, dan tidak bertanya kepada orang yang berpendapat lain. Akibat taklid tersebut, mereka lalai. Semoga Allah Swt mengampuni kami dan juga mereka.
Bisa jadi orang yang berpendapat bahwa Al-Quran memuat bahasa non- Arab dan itu bersumber darinya atau berpendapat bahwa dalam Al-Quran terdapat kosakata khusus yang sebagiannya tidak di ketahui oleh bangsa Arab sendiri. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas teorinya dan sangat kaya akan kosa kata setahu kami, hanya seorang Nabi yang menguasai seluruh cabang keilmuan bahasa Arab. Akan tetapi, Al-Quran tidak melupakan sedikitpun bentuk umumnya sehingga tidak di temukan orang yang tidak mengenalnya. Bagi bangsa Arab, pengetahuan mengenai bahasa  Arab sama seperti pengetahuan ahli fiqih tentang as-Sunah. Kami tidak pernah tau ada orang yang menghimpun as-Sunnah lalu dia tidak lupa sedikitpun tentangnya. Jika pengetahuan sebagian besar ulama tentang as-Sunah di himpun, maka akan menghasilkan as-Sunah yang lengkap. Sebaliknya jika pengetahuan masing-masing ulama di pisahkan, maka sebagian kecil as-sunah akan terlupakan, kemudian as-Sunah yang terlupakan itu di temukan pada ulama yang lain.
Imam Syafi’i mengatakan, “jika seorang bertanya, ‘terkadng kami menemukan orang non-Arab yang mengucapkan suatu bahasa Arab? Pertanyaan ini mirip dengan uraianku bahwa dia mempelajarinya dari orang-orang Arab. Jika tidak termasuk orang yang mempelajari bahasa Arab dari bangsa Arab, pasti dia hanya mengucapkan sedikit saja. Orang yang hanya mengucapkan sedikit kata berbahasa Arab berarti dia mengikuti bahasa Arab. Kami tidak memungkiri bahwa ada kemungkinan kesesuaian sedikit kosajata non-Arab dengan kosa kata arab, terdapat sedikit kosakata non-Arab yang bertentangan dengan sebagian besar kosa kata Arab, meskipun negerinya saling berjauhan dan bahasanya berbeda satu sama lain.
Jika seorang bertanya. ‘apa argument bahwa Al-Quran murni menggunakan bahasa Arab tanpa tercampuri oleh bahasa lain? Argumennya adalah Al-Quran. Allah berfirman, وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦKami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya.’ (QS. Ibrahim [14]: 4).[9]
4.      Al-Quran di Turunkan Pada Bulan Suci Ramadhan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (185) وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah [2]: 185).
Imam Syafi’i mengatakan, “barang siapa tidak berpuasa selama berhari-hari pada bulan Ramdhan karna halangan tertentu, (seperti sakit atau perjalanan jauh) maka hendaklah dia mengqadhanya kapan ajah, baik pada bulan Dzul Hijjah maupun bulan lainnya, sampai tiba pada bulan Ramadhan selanjutnya. Boleh secara terpisah maupun berturut-turut. Allah Swt berfirman, (فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) “maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang di tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”.
Allah swt tidak menyebutkan bahwa mengqadha’ puasa harus secara berturut-turut. Lagipula, beberapa sahabat Nabi memberi tahu kami bahwa beliau bersabda, yang artinya
apabila kamu menghitung bilangannya, maka berpuasalah sejumlah itu dengan cara apapun sekehendakmu.
Dengan demikian, jika orang yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan itu karna sakit atau melakukan perjalanan jauh dan tidak kunjung sembuh atau tidak juga mampuh berpuasa sampai tiba Ramadhan berikutnya, maka dia harus mengqadha’ puasanya tanpa membayar kafarat. Namun, jika ia tidak mengqadha’ puasanya, padahal memungkinkanbaginya untuk berpuasa, sampai tiba Ramadhan berikutnya, maka dia harus berpuasa pada bulan Ramadhan yang tiba itu dan mengqadha’ puasanya sekaligus membayar kafarat satu mudd setiap harinya.”[10]
Imam Syafi’i mengatakan, Allah Swt berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) al-Quran.’ (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Allah Swt menginformasikan ketentuan waktunya dengan bulan sabit, juga menentukan waktu hari-harinya dari bulan sabit. Dia tidak pernah menjadikan suatu informasi bagi umat islam selain dengannya. Dengan demikian, barangsiapa menginformasikan lain dari itu mka dia menginformasikan hal yang berbeda dari yang di informasikan oleh-Nya. Wallahu a’lam.
Ar-Rabi’ meriwayatkan dari Imam Syafi’i “berkenaan dengan bulan Ramadhan, Allah Swt berfirman, (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) ‘Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang di berikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Rasulullah Saw bersabda, yang artinya.
jangan berpuasa sebelum kalian melihatnya dan jangan berhenti puasa sebelum kalian melihatnya.[11]
Artinya adalah bulan sabit, jika pandangan kalian tertutup awan, maka genapkanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari.
Imam Syafi’i mengatakan, “Allah Swt berfirman mengenai bulan Ramadhan,( وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ) ‘Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang di berikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Aku mendengar ulam al-Quran yang aku sukai mengatakan, (وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ) ‘Hendaknya kalian mencukupkan bilangannya.’ Yaitu bilangan puasa pada bulan Ramadhan. (وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ) ‘Hendaklah kalian mengagungkan Allah,’ berarti pada saat bulan itu sempurna atas petunjuk yang di berikan-Nya kepada kalian. Penyempurnaannya adalah terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan.
Imam Syafi’i melanjutkan, “ alangkah serupa pendapatnya dengan firman-Nya. Wallahu ‘alam.[12]
5.      Al-Quran Pedoman dan Peringatan Bagi Umat Manusia
(01)  تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).” (QS. Al-Furqan [25]: 1)
      Imam Syafi’i berkata, “malik mengabarkan kepada kami, dari ibnu Syibah, dari Urwah, dari Abdurrahman bin Abdul Qari, dia mendengar umar bin Khatab r.a berkata, ‘aku mnedengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan tidak sama dengan bacaanku, sedangkan Rasulullah Saw pernah membacakannya kepadaku, maka seketika itu aku menanyakannya. Aku bersikap ramah kepadanya hingga dia menghindar dariku. Stelah itu, aku menarik bajunya (labbabtuhu[13]bi rida’ihi) dan membawanya kehadapan Rasulullah Saw. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah Saw, aku mendengar orang ini membaca surah al-Furqan ridak sama dengan bacaan yang pernah engkau bacakan kepadaku?’ Rasulullah Saw kemudian berkata kepada Hisyam,
Bacalah!’                                                                                          اقْرَأ
      Hisyam pun membaca surah itu sebagaimana yang ku dengar. Kemudian Rasulullah Saw bersabda,
Demikianlah bacaan surah itu di turunkan’                             هكذا أنزلت
      Kemudian Rasulullah Saw juga berkata kepadaku,
 Bacalah!’                                                                                         اقْرَأ
      Aku pun membacanya. Lalu Rasulullah Saw bersabda, yang artinya,
      demikianlah bacaan surah itu di turunkan, sesungguhnya Al-Quran ini di turunkan atas tujuh bacaan, maka bacalah yang mudah darinya.’”[14]
Imam Syafi’i berkata, “karna sifat maha lembut Allah Swt kepada makhluk-Nya, dia menurunkan kitab-Nya dengan tujuh macan bacaan sebagai pemberitahuan dari-Nya bahwa hafalan bisa jadi hilang, dan agar ragam bacaan itu di kenal mereka, walaupun hafalannya berbeda, tetapi tidak sampai mengubah makna. Tentunya kitab-kitab selain Al-Quran lebh patut untuk mengalami perbedaan hafalannya, selama tidak sampai mengubah maknanya,[15] dan perbedaan lafal dalam kitab yang tidak ada kandungan hukumnya, tidak akan sampai mengubah maknanya.
      Sebagian tabi’in berkata, ‘aku telah bertemu Anas, salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Mereka semua satu pendapat dalam makna, tetapi berbeda denganku dalam hal hafal.’
Lalau aku laporkan kejadian itu pada sebagian tabi’in yang lain. Dia berkata, ‘Tidak maslah, selagi tidak mengubah makna.’[16]
6.      Al-Quran Terjaga Kemurniannya
Allah Swt berfirman,
 (09) إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
sesunguhnya kami-lah yang telah menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya kam benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)
Ayat ini sebagai bantahan atas ucapan mereka yang meragukan sumber datangnya Al-Quran. Karena itu, ia dikuatkan dengan kata sesungguhnya dan dengan menggunakan kata Kami, yakni Allah Swt. Yang memerintahkan malaikat Jibril as. Sehingga, dengan demikian, kami menurunkan adz-Dzikr, yakni Al-Quran yang kamu ragukan itu, dan sesungguhnya kami juga Bersama semua kaumuslimin benar-benar baginya,yakni bagi Al-Quran, adalah yang akan menjadi para pemelihara otentisitas dan kekekalannya.
Imam syafi’i berkata, “Allah Swt menurunkan kitab-Nya kepada Rasulullah Saw dan dia berfirman,
(41). إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖوَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ
(42). لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖتَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
sesungguhnya orang-orang yang mengigkari Al-Quran ketika Al-Quran itu datang kepada mereka (bahwa mereka itu pasti akan celaka). Sesungguhnya Al-Quran itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang di turunkan dari Rabb yang maha bijak sana lagi maha terpuji.” (QS. Fushilat [41]: 41-42).
Lalau Allah Swt memindahkan mereka (fanaqaluhum)[17] dari kekufuran dan kebutaan menuju cahaya dan petunjuk. Dia pun menjelaskan apa saja yang di halalkan dari karunia-Nya yang tersebar (mannan bi at-tawsi’ah)[18] kepada semua makhluk-Nya, dan juga menjelaskan apa yang di haramkan, karena Dia lebih tau akan kebahagiaan mereka di akhirat dan dunia jika mereka meninggalkan apa yang di haramkan itu (fil al-kaff ‘anhu).[19]
Allah Swt juga menguji ketaatan mereka melalui ibadah mereka dalam bentuk ucapan, tindakan, ataupun menahan diri dari hal-hal yang di haramkan dia juga memberikan balasan kepada mereka atas ketaatan kepada-Nya, betapa agung nikmat-Nya. Dia memberi tahu mereka mengenai balasan yang akan diterima oleh para pelaku maksiat yang tidak sama dengan balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang taat.[20]



7.      Al-Quran Isi Kandungannya Universal
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ (89) لِلْمُسْلِمِينَ
(ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas atas seluruh umat manusia. Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)
      Ar-Rabi’ memberi tahu kami, katanya, Imam Syafi’i mengatakan, “segala puji bagi Allah Saw atas semua nikmat-Nya karna dia memang layak mentandangnya. Aku bersaksi bahwa tiada Illah selain Allah semata, yang tiada selutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan sekaligus utusan-Nya. Dia telah mengutus beliau dengan di bekali sebuah kitab mulia, yang tidak mungkin bisa dirasuki oleh kebatilan, dari arah depan maupun belakang. Sebuah kitab suci yang diturunkan oleh Dzat yang maha bijak sana lagi maha terpuji. Dengan Kitab-Nya itu, dua memberi petunjuk. Kemudian melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad Saw dia memberitahukan berbagai nukmat yang telah dia limpahkan, serta menegakkan Hujjah atas semua makhluk-Nya, agar semua tidak memiliki Hujjah atas Allah Swt setelah pengutusan para rasul, Dia pun berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
      Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala sesuatu dan petunjuk serta rahmat” (QS. An-Nahl [16]: 89)
Imam Syafi’i mengatakan, “seseorang yang menyandarkan dirinya kepada ilmu madzhab rekan-rekannya mengatakan kepadaku, ‘ada orang arab, al-Quran pun turun dalam bahasa Arab. Tentunya anda juga mengetahui tentang pemeliharaannya. Didalamnya terkandung berbagai kewajiban yang diturunkan oleh Allah Swt. Seandainya seorang meragukan karna menganggap ada satu huruf saja dari Al-Quran yang palsu maka anda akan memintanya supaya bertaubat. Jika mau bertaubat, anda akan memaafkannya, dan jika mau, anda akan menjatuhi hukuman mati padanya. Sementara Allah Saw sendiri telah Berfirman dalam Al-Quran, (تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ) ‘untuk menjelaskan segala sesuatu.
      Imam Syafi’i mengatakan, “ tidak ada suatu perkara pun menimpa seorang pemeluk agama Allah Swt, melainkan sudah ada petunjuk mengenai hal tersebut didalam kitab-Nya, Allah Swt berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
      Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskansegala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri’ (QS. An-Nahl [16]: 89)
      Abu Abdillah al-Hafidz memberi tahu kami, Abu al-Abbas memberi tahu kami, ar-Rabi’ bercerita kepada kami, Imam Syafi’i mengatakan, “Allah Swt menciptakan manusia berdasarkan ilmu-Nya tentang tujuan penciptaan mereka. Dia pun menurunkan Al-Quran bagi mereka,
تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
      untuk menjelaskansegala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri’ didalam kitab tersebut, dia telah mewajibkan beberapa kewajiban permanen, yang sebagian lagi dia nasakh, sebagai rahmat sekaligus keringanan bagi makhluk-Nya. Selain itu juga dimaksudkan untuk memberi kelapangan kepada mereka, menambah nikmat serta melipatgandakan paha bagi mereka, berupa surge dan keselamatan dari adzab-Nya. Dengan demikian, dia telah menebarkan rahmat melalui apa yang dia tetapkan dan nasakh. Segala puji hanya bagi-Nya atas segala nikmat-Nya.[21]


8.      Keistimewaan dan Keagungan Al-Quran
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
(48) فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
      kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebeblumnya, yaitu kitab-kitab (yang di turunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kalian semua kembali, lalu dia beri tahukan kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (QS. Al-Mai’dah [5]: 48)
      Abu Sa’ad bin Abu Abru mengabarkan kepada kami, Abdul Abas telah mengabarkan kepada kami, dia berkata, “Ar-Rabi’ menggambarkan kepada kami, dia mengatakan bahwa Imam Syafi’i berkata mengenai firman Allah Swt,
وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
      janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.’ Ayat ini mengandung ketidak pedulian, terlalu toleran, dan tidak menerapkan ketentuan hukum. Pengertian lain dari ayat ini mereka mengikuti hawa nafsunya. Kedua bentuk hawa nafsu ini di larang. Rasulullah Saw di perintahkan untuk memutuskan perkara di antara mereka berdasarkan ketentuan yang di turunkan Allah Swt.
      Al-Azhari berkata, “ Allah berfirman, (لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا) ‘untuk tiap-tiap umat di antara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang.’ Yaitu jalan yang jelas dimana kita di perintahkan untuk konsisten di sana. Orang Arab berkata, ‘syara’a as-salikh ihaba adz-dzabihah, (tukang jagal itu memotong bagian antara kedua kaki belakang hewan sembelihan dan mengulitinya.).
      Syara’ artinya penjelasan. Allah Swt adalah penjelas (syari’) agama kepada hamba-Nya. Tidak seorang pun yang berhak menjelaskan sesuatu yang bukan berasal dari agama, kecuali jika Nabi Saw menjelaskan hal tersebut atas perintah Allah Swt. Karena penjelasan Nabi Saw merupakan penjelasan Allah Swt.
      Sebagian ahli bahasa berpendapat mengenai firman Allah Swt, (لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا) ‘‘untuk tiap-tiap umat di antara kalian, kami berikan aturan dan jalan yang terang.Syari’ah yang berawal dari sebuah jalan, sedangkan Minhaj menunjukan arti sebagian besar jalan.[22]
9.      Berbagai Hikmah di Turunkan Al-Quran
Imam Syafi’i berkata, Allah Swt berfirman,
وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا
(124) الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُون
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا
(125) وَهُمْ كَافِرُونَ
      apabila di turunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘siapakah diantara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?’ adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang didalah hatinya ada penyakit, maka dengan surah ini bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah [9]: 124-125)
      Allah juga berfirman, (إنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى) ‘sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi [18]: 13)
Imam Syafi’i berkata, “ seandainya semua iman itu sama, tidak berkurang dan tidak bertambah, tentu tidak ada orang yang lebih utama dari yang lain; semua manusia sama; dan hukum keutamaan pun batal. Akan tetapi, dengan kesempurnaan iman, kaum mukinin masuk surga, dan dengan bertambahnya iman, kaum mukminin mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah Swt di surge. Sebaiknya, sebab kurangnya keimanan, orang-orang yang membangkang masuk neraka.”
      Imam Syafi’i berkata, “sebenarnya Allah Swt memperlombakan hama-hamba-Nya seperti memperlombakan kuda pacuan. Mereka di tempatkan menurut tingkat kecepatan dalam perkombaan itu, hak setiap orang tidak akan dikurangi sedikit pun. Dia tidak akan mengutamakan orang yang lamban di atas orang yang cepat, tidak pula orang yang rendah di atas orang yang mulia. Oleh sebab itu, Allah Swt memulyakan umat islam yang awal daripada yang akhir. Seandainya orang yang lebih dulu beriman tidak lebih mulya dibandingkan yang beriman belakangan, pasti umat muslim yang terakhir menjadi umat termulya.”
      Imam Ahmad bin Hambal berkata, “saya berpendapat maslah keimanan (seperti di ungkapkan Ibnu Ubaid) lebih luas dari ini. Jika kedua kisah tersebut benar, maka bisa jadi Abu Ubaid mengambil pendapat itu dari Imam Syafi’i kemudian diberi keterangan tambahan olehnya. Tampaknya pendapat ini (Abu Ubaid) sejalan dengan pendapat itu (Imam Sayfi’i). Wallahu a’lam.[23]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Saya mengambil kesimpulan bahwa Al-Quran adalah firman Allah Swt yang berbahasa Arab. Diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk dipahami isinya, disampaikan kepada kita secara Mutawatir, ditulis dalam mushaf dimulai dengan surat Al-Fatihan dan di Akhiri dengan Surat An-Nas.[24]
Al-Quran yang agung ini sejalan dengan kebijakan Allah tidak ada lagi di dunia ini wahyu ilahi selain dia setelah lenyapnya atau bercampurnya kitab-kitab samawi terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang di ciptakan mansuia, Al-Quran adalah petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber sistem aturan tuhan bagi kehidupan, jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran, dan keadilan, sumber etika dan akhlak yang mesti di terapkan untuk meluruskan perjalanan manusia dan memperbaiki perilaku manusia. Allah Swt berfirman :
مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ
Tidaklah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab (Al-Quran)” (QS. Al-An’am [6]: 38)
Di juga berfirman,
dan kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunujuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)
Al-Quran sebagai mukjizat terbesar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril as. Yang mencakup:
1.      Al-Quran Ialah Kalam Allah Yang Haq
2.      Al-Quran di Turunkan Kepada Nabi Muhammad Saw
3.      Al-Quran di Turunkan Dengan Bahasa Arab
4.      Al-Quran di Turunkan Pada Bulan Suci Ramadhan
5.      Al-Quran Pedoman dan Peringatan Bagi Umat Manusia
6.      Al-Quran Terjaga Kemurniannya
7.      Al-Quran Isi Kandungannya Universal
8.      Keistimewaan dan Keagungan Al-Quran
9.      Berbagai Hikmah di Turunkan Al-Quran














[1] Artinya: manusia dan jin tidak mampuh membuat rangkaian seperti surah terpendek darinya.
[2] Artinya, shalat tidak sah jika tidak membaca sesuatu darinya (Al-Quran); dan semata-mata membacanya merupakan ibadah yang mendatangkan pahala bagi seorang muslim.
[3] Mutawatir artinya diriwayatkan oleh jumlah yang besar dari jumlah yang besar, yang biasanya tidak mungkin mereka bersekongkol untuk berdusta.
[4] Tafsir Gharaa’ibul Qur’aan wa Raghaa’ibul Furqaan karya al-Allamah an-Nazhzham (Nazhzhamud Din al-Hasan bin Muhammad an-Naisaburi) yang di cetak di pinggir Tafsir ath-Thabari (1/25), Tafsir ar-Razi (2/14).
[5] Wahbah az-Zuhaili, (Tafsir Al-Munir ( Aqidah, Syari’ah, Manhaj)), Gema insani, 2005,Jilid 2, hal. 1-2.
[6] Menunjuk pada ayat ke-103 surah an-Nahl-baca juga tafsirannya yang berkaitan dengan makna ayat (yang telah di subutkan) di sini-dan ayat ke-44 surah Fusilat.
[7] Kementrian Agama RI, Al-Quran dan tafsir ( edisi yang di sempurnakan ), PT. Sinergi Pustaka Indonesia, terbitan tahun 2009, hal. 36

[8] Sebuah isyarat pada ayat ke-192 sampai 195 surah asy-Syu’ara, ayat ke-37 surah ar-Ra’d, ayat ke-7 surah asy-Syua, ayat ke-1 sampai ayat ke-3 surah az-Zuhruf, dan ayat ke-28 surah az-Zumar.
[9] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 3, hal. 31-34.

[10] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 1, hal. 289-290.
[11] Hadits ini shahih, Nasa’I meriwayatkannya pada kitab pembahasan ash-shaum. Lihat Syifa’ al-‘iyyi bi Tahqiq Musnad al-Imam asy-Syaf’iyy, karya Abu ‘Umar al-Mishri al-Atsari, jilid 1, hal. 747, hadits no. 723.
[12] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 1, hal. 291-293.
[13] Labbabtuhu artinya adalah saya mrngambill dan menarik semua bagian bajunya. Kata ini di ambil dari kata labbah, artinya tempat kalung, yakni dada. Lihat kamus al-Muhith, hal. 170.
[14] Hadits shahih. Diriwayatkan ole hath-Thayalisi dalam Musnad-nya. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits ini. As-Suyuthi menisbahkan hadits ini kepada Bukhari, Muslim, serta Ashhabus Sunan. Lihat ar-Risalah, hal. 273.
[15] Petunjuk pada (adanya) perbedaan para rawi dalam periwayatan kalimat tasyahud.
[16] Yakni selagi maknanya tidak berubah. Menurut bahasa orang yang menafikan amalnya lam yang kusus menggunakan bentuk prosa, sebagaimana di jelasan oleh Ibnu Malik dalam at-Tashil. Karena itu, kami men-dhamah-kan akhir kata kerja itu (yahilu). Boleh juga di-kasrah-kan (yahili) untuk menghindari bertemunya dua harkat sukun (yakni jazm dan al at-ta’rif setelahnya.)
[17] Dalam Ahkam al-Quran di tulis: “fanaqalahum bin min al-kufri.
[18] Dalam Ahkam al-Quran di tulis: “lana bi at-tawsi’ah“ (bagi kami yang tersebar). Dan kalimat yang di tulis dalam ar-Risalah lebih akurat. Lihat ahkam al-Quran, jilid 1, hal. 20.
[19] Dalam Ahkam al-Quran di tulis: “’ala al-kaff.
[20] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 3, hal. 354-355.
[21] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 3, hal. 20-24.
[22] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 2, hal. 369-370.
[23] Syekh Ahmad bin Musthafa al-Farran (Muhaqqiq), (Tafsir Imam Syafi’i), Penerbit Almahira, 2008,Jilid 2, hal. 584-686.
[24] Menurut Syehk Muhammad Khudri Beik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

الرقيه الشرعيه

Pengertian menurut kaidah syar'i :Ruqyah Syariah adalah sebuah terapi pengobatan dengan cara membacakan ayat-ayat suci Alquran dan do...