KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum .wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah
SWT karena dengan limpahan Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “ Tantangan
Al-Qur’an Untuk Melakukan Penelitian / Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong
Hubble ”tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw. keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Aamiin.
Al-Qur’an adalah wahyu
Allah yang di sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw berisi pedoman, petunjuk dan
sentral kendali segala wacana ideologi kehidupan untuk mencapai kesuksesan dan
kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam konteks ini, al-Qur’an sering menyebut
dirinya sebagai Al-Huda ( petunjuk ),
Al-Kitab ( pedoman ), Asy-Syifa ( penyembuh ), Adz-Dzikr ( peringatan ), At-Tibyan ( penjelas ), Al-Furqon ( pembeda ), dan lain-lain. Semua
Nama al-Qur’an ini mengindikasikan bahwa ia adalah kitab suci yang berdimensi
universal, yang mencakup segala aspek dan problem kehidupan manusia.
Untuk
itu, al-Qur’an hadir di tengan hiruk-piruk kehidupan modern ini dengan membawa
solusi alternatif dan konsep pencerahan bagi semua problematika yang ada pada
saat ini. Tanpa dibatasi ruang dan waktu, al-Qur’an masih tetap relevan untuk
digunakan mengatasi persoalan-persoalan yang ada pada zaman modern ini dalam
konteks kekinian dan ke-di-sinian. Apa yang di tawarkan oleh al-Qur’an untuk
kita menghadapi zaman sekarang ini?
Makalah ini hadir untuk memberikan
jawaban bahwa kembali kepada al-Qur’an adalah solusi terbaik untuk menghadapi
berbagai problem-problem zaman modern yang tengah kita hadapi saat ini, seperti banyaknya teori-teori sain yang tidak sesuai
dengan Al-Qur’an. Dengan alasan yang cerdas dan Bahasa yang ringan, makalah ini
membahas berbagai tema tersebut.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Kami
mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini di kemudian hari. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi Kami khususnya dan pembaca pada umumnya. Aamiin.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Serang, 16 Maret 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an telah menambahkan dimensi
baru terhadap studi mengenai penomena jagat raya dan membantu pikiran manusia
melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. al-Qur’an
menunjukan bahwa materi bukanlah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, karna
padanya terdapat tanda-tanda yang bimbing manusia kepada Allah serta kegoiban
dan keagungannya. Alam semesta. Yang amat luas adalah ciptaan Allah, dan al-Quran
mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban dan kegaibannya,
serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yag melimpah ruah untuk kesejahteraan
hidupnya. Jadi al-Quran membawa manusia kepada Allah melalui ciptaannya dan
realitan kongkret yang terdapat di bumi dan di langit inilah yang sesungguhnya
di lakukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu: mengadakan obserpasi, lalu menarik
hukum-hukum alam berdasarkan obserpasi dan eksperimen. Dengan demikian ilmu
pengetahuan dapat mencapai yang maha pencipta melalui obserpasi yang teliti dan
tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan al-Qur’an menunjukan
kepada realitas intelektual yang maha besar, yaitu Allah Swt lewat ciptaanya.
Mengingkari realitas ini akan
membawa manusia kepada anarkis dan kebingungan serta merampas kedamaian dan
ketentraman batinnya hingga membuat mereka merasakan hidupnya berada dalam
kekosongan. Mengingkari adanya Allah maha pencipta yang di lakukan para ilmuan,
akan membawa mereka kepada sikap menyalahgunakan sumber-sumber kakayaan alam
dari Allah maha pencipta untuk menghancurkan manusia dan nilai-nilai hidupnya
mereka mengeruk sepenuhnya keuntungan materi dari karunia Allah dan menikmati
kehidupan mewah yang melimpah ruah tanpa rasa syukur atas nikmat dari Allah
maha pencipta; tetapi mereka tidak akan memiliki kedamaian jiwa dan kebahagiaan
hakiki dalam dirinya. Kelimpahan dan kekayaan materi saja tidak akan memberikan
kepuasan mental dan sepirituan kepada manusia. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
siapakah sesungguhnya kita ini dari mana kita datang dan kemana kita akan pergi
apakah alam semesta ini? Siapakah yang menciptakan dan mengendalikannya? Apakah
tujuan kita di ciptakan tuhan? Apakah kita ini sederajat dengan makhluk
lainnya? Pertanyaan seperti ini dan pertanyaan lainnya yang serupa akan tetap
tak terjawab dan terus menerus menghantui jiwa manusia dalam hidupnya.
Jika manusia akan tetap berada pada
taraf hidup yang rendah seperti hidup binatang buas, kecuali bila ia telah
dapat mengenal tuhannya yang menciptakannya tanpa pengenalan itu, ia makan,
minum dan berkembang biak sama halnya dengan seekor binatang dan mati seperti
seekor binatang pula dan merampas hak milik orang lain dengan cara kekerasan.
Keadilan sosial dalam kehidupan dan penghidupan manusia pada umumnya, hanya
dapat di perbaiki dan di perbaharui melalui iman kepada Allah yang maha Esa
yaitu tauhid.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang di maksud dengan Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble?
2.
Bagaimanakah
jawaban Al-Quran tentang Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble ?
3.
Bagaimanakah
titik temu antara ilmu sains dan al-Qur’an ?
4.
Bagaimanakah
manfa’at riset ilmiah Teknologi Tropong Hubble ?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui tujuan adanya Riset ilmiah pada tekhnologi tropong Hubble.
2.
Untuk
menjelaskan bahwa Al-Qur’an menjawab semua permasalahan tentang Riset ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble.
3.
Mengetahui
titik temu antara ilmu sains dan al-Qur’an.
4.
Mengetahui
manfa’at dari penelitian ilmiah teknologi tropong Hubble.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teleskop atau teropong adalah sebuah
instrument pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan
sekaligus membentuk citra dari benda yang di amati. teleskop atau tropong
merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi.
Teropong besar yang ada di dunia di
sebut dengan teleskop hubble. Teleskop ini berada di Observatorium Yarkes yang
berada di kawasan teluk wiliam wisconin, amerika serikat. Teleskop sendiri ini
mempunyai lensa obyek yang diameternya berukuran satu meter. Itulah mengapa
teleskop ini mampu menangkap cahaya dalam jumlah yang besar untuk masuk
kedalamnya. Teleskop hubble bisa di manfaatkan guna mengadakan pengamatan obyek
secara langsung. Dimana dalam hal ini, lensa okuler akan berfungsi untuk
memperbesar dan melihat bayangan yang terbentuk oleh lensa obyektif,
sebagaimana halnya dalam mikroskop.[1]
Alam semesta juga layaknya manusia
turut berkembang dan melakukan aktifitas. Ini merupakan pakta ilmiah yang
terjadi hingga saat ini. Sebagai pembuktian, astronomi amerika Edwin Hubble
mengamati antariksa menggunakan teleskop raksasa. Ia menemukan bahwa cahaya
sejumlah bintang bergeser kearah ujung merak sepaktrum. Pergeseran tersebut
erat kaitannya pada jarak antara bintang-bintang itu dengan bumi. Temuan ini
menjadi jawaban atas teori sebelumnya yang menyebutkan bahwa ukuran tata surya
setatis. Berdasarkan penelitian Edwin Hubble, artinya benda-benda ruang angkasa
menjauh dari bumi.
Dalam buku al-Qur’an vs sains modern
menurut Dr Zakir Naik karya ramadhani, hubble juga mengungkapkan bahwa benda-benda
ruang angkasa tak hanya menjauh dari bumi, melainkan saling menjauh antara satu
benda dengan yang lainnya. Dari penelitian itu di simpulkan bahwa sesuatu yang
saling menjauh berarti alam semesta berkembang. Bahkan Stephem Hawking dalam
bukunya,”A Brief Histori of Time” menyebutkan bahwa penemuan ilmiah alam
semesta senantiasa berkembang adalah sebuah revolusi intelekual abad ke-20.
Alam semesta yang berkembang rupanya telah di jelaskan dalam al-Qur’an jauh
setelah manusia mengenal teleskop.
Tafsiran ayat tersebut Allah SWT
berfirman seraya mengingatkan tentang penciptaan alam atas dan alam bawah.
Lafadz والسماءبنيناها yang artinya dan
langit itu kami bangun. (Qs Adz-zariyat: 47) Maksudnya kami menjadikannya
sebagai atap yang terpelihara lagi tinggi.[3]
lafadz بايد yang artinya dengan kekuatan kami. (Qs
Adz-zariyat: 47) yakni dengan kekuatan, menurut ibnu abas, mujahid, qatadah,
dan as-sauri serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Lafadz وانالموسعون yang artinya dan sesungguhnya kami
benar-benar meluaskannya. (Qs Adz-zariyat: 47) maksudnnya, kami jadikan
cakrawalanya luas dan kami tinggikan tanpa tiang-tiang pemancang yang menopang.[4]
Terbentuknya alam semesta juga di
jelaskan dalam surah Al-Anbiya Ayat 30. Ayat ini sekaligus menjelaskan bahwa
penciptaannya alam semesta melalui suatu proses. Firman Allah SWT:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ
كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“ dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami
pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman.” ( Qs Al-Anbiya Ayat 30. )
B.
Ayat al-Quran tentang Riset Ilmiah Pada Teknologi
Tropong Hubble
Teori riset ilmiah pada teknologi tropong hubble ini berkaitan
dengan firman Allah Swt yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi
bahwasanyah Allah swt Berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا
مِنْ لُغُوبٍ
“ dan sungguh, kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang
ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami tidak merasa letih sedikitpun.” ( Q.S. Qaaf ayat: 38 )
Asbabun nuzul ayat ini Hakim meriwayatkan dari ibnu abbas, orang-orang
yahudi menemui Rasulullah Saw, lalu bertanya tentang penciptaan langit dan
bumi. Beliau menjawab, “Allah Swt menciptakan bumi pada hari ahad dan senin,
menciptakan gunung-gunung berikut seluruh kemanfaatannya pada hari selasa,
menciptakan pepohonan, air, kota-kota, tempat-tempat pembangunan dan yang
kosong pada hari rabu, menciptakan hari pada hari kamis, sedangkan pada hari
jumat menciptakan bintang-bintang, matahari, bulan hingga masih tersisa tiga
waktu dari hari jumat; pada waktu pertama, dia menciptakan ajal hingga matilah
orng yang mati, pada waktu yang kedua ia menghilangkan penyakit dari setiap hal
yang di manfaatkan manusia, sedangkan pada waktu yang ketiga dia menciptakan
adam dan menempatkannya di surga, memerintahkan iblis untuk bersujud kepada
adam, dan mengeluarkan adam dari surga pada ahir saat yang ke tiga itu,”
Dalam
ayat yang lain juga mejelaskan bahwasanya bumi yang Allah ciptakan dulunya
menyatu sesuai dengan Firman Allah Swt:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ
كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya:
“ Dan apakah
orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah satu padu, kemudian kami pisahkan antar keduanya dan dari air
kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapakah mereka tiada juga
beriman.” ( Q.S. Al-Anbiya ayat: 30 ).
Hampir 14 abad lalu, ayat di atas
menjadi suatu di antara firman-firman Allah Swt yang turun kepada Rasulullah
Saw dengan muatan sains. Ayat tersebut menjelaskan tentang asal muasal langit
dan bumi, yang mulanya satu dan kemudian di pisahkan. Menemukan jawaban tentang
proses terciptanya alam semesta menjadi dahaga tersendiri bagi para ilmuan. Karena
itu, mereka sejak ribuan tahun yang lalu berusaha meneliti antariksa. Di tambah,
astronomi memang telah menjadi salah satu kebutuhan manusia sejak lama,
terutama dalam hal napigasi serta penentuan dan pembagian waktu. Terlebih bagi
muslim, astronomi berfungsi lebih jauh untuk menentukan arah ka’bah dan juga
lima waktu shalat.
Ayat di atas sesuai dengan hukum
Hubble yaitu fenomena red shift ( pergeseran merah ) yang berarti
galaksi semakin menjauh. Hukum ini menyatakan tentang pergeseran merah/red
shift dari cahaya yang datang dari galaksi yang jauh sebanding dengan jaraknya.
Hal ini juga di
sebutkan dalam Al-Qur’an Q.S. Ar-Rahman ayat 37:
“ lalu, apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti
( kilapan ) minyak “[5]
Phenomena pergeseran merah (red shift) yaitu perubahan
gelombang cahaya dari biru kemerah yang
berarti galaksi-galaksi di alam semesta bergerak semakin menjauh ( frekuensi
semakin kecil ).
Bila tatapan konstanta Hubble dapat di tetapkan untuk menghitung
kecepatan pengembangan alam semesta maka kita dapat menghitung mundur untuk
menentukan awal dari pengembangan alam semesta (big bang). Maka dari itu
Hubble kemudian dapat menghitung umur alam semesta berdasar konstanta yang di
hitungnya.
Langit dengan segala benda-benda angkasa yang terdapat di sana,
keadaannya pun seperti keadaan satuan-satuan yang berada di bumi. Benda-benda
langit dan bumi tempat kita berpijak demikian juga halnya. Hanya saja, karena
keterbatasan usia, kita tidak bisa menyaksikan keadaan langit dan bumi seperti
apa yang kita saksikan pada bagian-bagian kecilnya. Kita tidak dapat menyaksikan
pembentukan dan kehancurannya, tetapi betapapun demikian, harus di akui bahwa
baik planet-planet di bumi, serta bagian-bagiannya yang tekecil semua adalah
materi sehingga semua yang kecil atau yang besar secara umum sama dalam hukum-hukumnya.
Demikian kurang lebih Thabathabai, yang kemudian berkesimpulan bahwa
terulangnya berkali-kali apa yang kita lihat pada perincian benda-benda atau
kehidupan dan kematian apa yang terdapat di bumi dan di langit, menunjukkan
bahwa suatu ketika langit dan bumi pernah merupakan satu kesatuan (gumpalan)
tanpa pemisahan bumi dari langit kemudian atas kehendak Allah Swt, keduanya di
pisahkan, atas kehendak dan di bawah pengaturan dan kendali Allah sang Pencipta
Agung itu.[6]
Ayat ini di pahami oleh sementara ilmuan sebagai salah satu
mukjizat al-Qur’an yang mengungkapkan peristiwa penciptaan planet-planet.
Banyak teori ilmiah yang di kemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukti yang
cukup kuat, yang menyatakan bahwa tadinya langit dan bumi merupakan satu gumpalan
atau yang di istlilahkan oleh ayat ini dengan ( رتقا ( ratqan, lalu gumpalan itu
berpisah sehingga terjadilah pemisahan antara bumi dan langit. Memang, kita
tidak dapat memperatasnamakan al-Qur’an mendukung teori tersebut. Namun,
agaknya tidak ada salahnya teori-teori itu memperkaya pemikiran kita untuk
memahami maksud firman Allah di atas.
Firman Allah Swt :
فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ
فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ
“ maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti
kilapan minyak. “ ( Q.S. Ar-Rahman ayat 37 )
QS. Ar-Rahman Ayat 37 diatas menggambarkan ledakan sebuah bintang.
Gambaran mengenai ledakan tersebut dikonfirmasi oleh ilmu pengetahuan modern. Ledakan
bintang yang demikian ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Fenomena
alam ini juga tidak dapat ditangkap dengan menggunkan tropong bintang biasa.
Diperlukan tropong bintang canggih skaliber “hubble space super telescope” yang
dimiliki oleh NASA, suatu Lembaga
antariksa amerika, Namun hal ini sudah digambarkan dalam al-Qur’an secara jelas
pada1400 tahun yang lalu, dengan kemajuan tekhnologi, ternyata apa yang
diuraikan dalam al-Qur’an, terbukti secara detail ledakan yang terjadi memang
sangat mirip dengan bunga mawar merah yang sedang berkembang.
Ledakan bintang atau di sebut dengan istilah supernova, adalah
sebuah bintang raksasa yang “ menghancurkan diri sendiri “ dalam ledakan
dahsyat. Materi intinya akan bertebaran keseluruh penjuru. Cahaya yang di
hasilkan dalam peristiwa ini ribuan kali lebih terang dari pada keadaan normal.
Para ilmuan masa kini menganggap bahwa supernova memainkan peran
penting dalam penciptaan alam semesta. Ledakan ini menyebabkan unsur atau
materi yang berbeda-beda berpencar dan berpindah kebagian lain alam semesta. Di
asumsikan bahwa materi yang di lontarkan ledakan ini kemudian bergabung untuk
membentuk galaksi atau bintang baru di bagian lain alam semesta. Menurut
hipotesis, tata surya kita, matahari dan planetnya termasuk bumi, merupakan
produk supernova yang terjadi dahulu kala. Meskipun supernova tanpa seperti
ledakan biasa, pada kenyataannya, ledakan tersebut sangat tersetruktur dalam
setiap detailnya. Jarak antar supernova, dan bahkan antar semua bintang, sangat
penting untuk alasan yang lain. Jarak antar bintang dalam galaksi kita adalah
sekitar 30 juta tahun cahaya. Jika jarak ini lebih dekat, orbit planet-planet
akan tidak stabil. Jika lebih jauh maka debu hasil supernova akan tersebar
begitu acak sehingga sistem planet seperti tata surya kita tidak mungkin pernah
terbentuk. Jika alam semesta menjadi rumah bagi kehidupan, maka kedipan
supernova harus terjadi pada lajur yang sangat tepat dan jarak rata-rata di
antaranya harus sangat dekat yang teramati sekarang.
perbandingan
antara supernova dan jarak antar bintang hanyalah dua rincian yang sangat
selaras pada alam semesta yang penuh keajaiban. Mengamati lebih teliti alam
semesta, maka pengaturannya akan terlihat begitu indah, baik dalam rancangan
maupun susunannya.[7]
C. Titik temu antara ilmu sains modern dan agama persefektif
al-Qur’an
Al-Qur’an
di turunkan oleh Allah pada empat belas abad yang lalu. Al-Qur’an bukan buku
ilmiah, tetapi kitab ini mencakup beberapa penjelasan ilmiah yang tidak pernah
bertentangan dengan temuan-temuan sains modern. Fakta-fakta tertentu yang baru
di tentukan, teknologi abad ke-20 itu sebenarnya telah di ungkapkan dalam
Al-Qur’an sejak empat belas abad yang silam. Ini menunjukan bahwa terdapat
titik temu antara sains dan agama. Dengan kata lain, Al-Qur’an memandang
terdapat hubungan erat antara sains dan agama, serta keduanya tidak terjadi
saling berkontradiksi.
Al-Qur’an bukanlah kitab sains. Tetapi ia memberikan pengetahuan
tentang dasar-dasar dan prinsip-prinsip
sains, yang salalu di kaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Tanda-tanda
bahwa Al-Qur’an sebagai kitab yang membuat ide-ide ilmiah dan prinsip-prinsip
sains itu, telah tergambar dari wahyu yang pertama di turunkan Allah kepada
nabi Muhammad SAW.:
“ bacalah dengan ( menyebut
nama ) tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajar ( manuisa )
dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya."[8]
Kata “ iqro “ pada awal
surat, merupakan permulaan dibukanya wacana ilmiah. “ iqro “ pada ayat tersebut tidak sekedar bermakna membaca huruf
(etimologi). Tetapi juga bermakna umum. Membaca di sana maksudnya meneliti,
mengamati, membaca akan tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang
tertulis atau tidak tertulis.
Al-Qur’an menyuruh manusia untuk “ membuka mata “ membaca segala
fenomena, berfikir yang dalam kemudian berbuat sesuatu yang nyata. Dalam
melakukan semuanya itu, dengan kalimat “ bismi
robbika “ memberikan pesan yang dalam bahwa manusia tidak akan pernah dapat
lepas dari penguasaan Allah SWT. Apapun yang akan di perbuat manusia maka Allah
akan selalu di sekitarnya; melihat, mendengar, dan merasakan apapun yang ada
pada diri manusia.
Buya hamka mengatakan bahwa “ bismi
robbika “ mengandung pengertian kudrot dan irodat Allah. Yaitu ketentuan
dan kepastian dari Allah. Manusia tidak memiliki kekuatan sedikitpun, kecuali
atas kehendak dan kekuasaan Allah.[9]
Kemudian pada ayat selanjutnya, Al-Qur’an mengajak berdialog dengan
manusia tentang fenomena alam. Al-Qur’an merangsang manusia untuk berfikir
dengan otaknya tentang penciptaan (asal mula) manusia. Kalimat “ khalaqal insana min ‘alaq (penciptaan
manusia dari segumpal darah)” merupakan wacana baru pada saat itu dikalangan
orang-orang quraisy. Rasio mereka belum ada yang berfikir kearah itu. Pada ayat
berikutnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia bisa saja memperoleh jawabannya
dengan bantuan Allah. Menurut Quraish shihab Allah mengajarakan manusia dengan
dua cara, yaitu Allah mengajar dengan penanya (alam semesta) dan mengajar
dengan tanpa pena (wahyu atau intuisi).
Selanjutnya, seiring dengan perjalanan hidup manusia, bukti bahwa
Al-Qur’an sebagai kitab sumber ilmiah dan inspirasi sains modern semakin jelas.
Penemuan-penemuan baru tentang kosmologi alam semesta merupakan bukti shohih
bahwa Al-Qur’an mukjizat yang mampu membuktikan kebenaran-Nya. Untuk menelusuri
pandangan Al-Qur’an tentang sains, mau tidak mau, mengundang kita menengok
sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian
ulama terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi
dan fenomenannya. Dan menurut penelitian sementara, tidak kurang dari 28 ilmu
terdapat dalam Al-Qur’an (ghulsyani, 1988:62).
Hal ini menunjukan bahwa logika Al-Qur’an tidak pernah bertentangan dengan
penemuan sains modern. Bahkan belakangan ini, begitu banyak penemuan-penemuan
ilmiah yang juga di temukan konsepnya dalam Al-Qur’an.
Ada banyak penemuan sains mutakhir yang menyingkap kitab suci
terakhir yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini, antara lain:
1.
Pada
tahun 1925, ahli astronomi amerika, Edwin Hubble memberikan bukti penelitian
bahwa ternyata alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebetulnya
tidak ada. Teori ini di sebut teori ledakan dahsyat (big bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini pada mulanya
terjadi dengan peledakan. Teori ledakan dahsyat itu menunjukan bahwa pada
mulanya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian yang kemudian
terpisah-pisah. Kenyataan yang di tunjukan oleh teori ledakan dahsyat ini,
dinyatakan dalam Al-Qur’an pada empat belas abad yang lalu, ketika manusia
memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang alam semesta.
2.
Setelah
penelitian yang dilakukan oleh Prancis Golt pada 1880, sidik jari menjadi
metode latihan identifikasi. Tidak ada dua ornag di dunia ini yang mempunyai
pola sidik jadi yang sama, itulah alasan kepolisian di seluruh dunia
menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi penjahat. Pada 1400 tahun yang
lalu, apakah kita mengenal keunikan dari setiap sidik jari manusia? Sungguh
pasti, tidak ada selain Allah yang maha pencipta. Pada abad ke tujuh, Al-Qur’an
menunjukan bahwa ujung jadi manusia mengandung karakteristik penting, Firman
Allah SWT :
“ apakah manusia mengira bahwa kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bahkan kami mampu menyusun (kembali)
jari jemarinya dengan sempurna,”[10]
3.
Frof.
Dr. Keith Moore, Frofesor ilmu janin dan pimpinan departemen anatomi di
universitas Toronto, Canada. Setelah berhati-hati menguji terjemahan ayat-ayat
Al-Qur’an ia tidak biasa berkomentar banyak dan hanya berkata bahwa informasi
tentang ilmu janin yang tersebut dalam Al-Qur’an sangat cocok dengan penemuan -
penemuan modern di bidang ilmu janin, dan beberapa ayat dalam Al-Qur’an telah
menjeaskan dengan sangat jelas dan sempurna. More memberikan bukti bahwa jenis
kelamin suatu janin di tentukan oleh sifat alami sperma, bukan telur. Jenis
kelamin anak wanita atau laki-laki bergantung pada pasangan kromosom ke 23,
iyalah XX atau XY berturut-turut. Penentuan kelamin terutama pada pembuahan dan
bergantung pada tipe kromosom kelamin sperma yang membuahi satu telur. Jika
yang membuahi telur adalah X, janin itu adalah wanita; dan jika sperma adalah Y,
maka janin itu adalah laki-laki;. Dalam suatu ayat dinyatakan bahwa keperiaan
atau kewaitaan itu ternyata dari mani; dengan kata lain, sumber jenis kelamin
itu bukan perempuan melainkan laki-laki.
“ dan sesungguhnya dialah yang menciptakan
pasangan laki-laki dan perempuan; dari air mani apabila di pancarkan.”
4.
Pada
1580, Bernad Palisy adalah manusia pertama yang menguraikan kosep ‘siklus air.
Ia menggambarkan air menguap dari samudra dan kemudian membentuk awan. Awan
kemudian bergerak ke bumi, lalu naik memadat dan jatuh sebagai hujan.
Menurutnya, pembentukan hujan berlangsung pada tiga tahap. Mula-mula, “ Bahan
baku “ hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk, dan akhirnya curahan hujan
terlihat. Tahap-tahap ini di tetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad
yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan
“ Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin
itu menggerakan awan dan Allah membentngkannya di langit menurut yang dia
kehendaki, dan menjadikannya bergumpal - gumpal, lalu kamu lihat air hujan
keluar dari celah - celahnya, maka apabila dia menurunkannya kepada
hamba-hamba-Nya yang dia kehendaki, tiba-tiba mereka bergembira.”[11]
5.
Pada
awalnya orang-orang percaya bahwa bumi adalah rata. Selama berabad-abad manusia
ketakutan untuk menanggung resiko terlalu jauh agar mereka tidak perlu jatuh di
tepi. Sir prancis drake orang pertama
yang membuktikan bahwa bumi adalah bulat dengan pelayarannya tahun 1597. Tetapi
jauh sebelum penemuan tersebut, Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa bentuk bumi
itu geo-spherical, yaitu bulat yang di hamparkan pada kutub-kutub. Firman Allah
SWT :
والارض
بعد ذلك دحها
“ dan sesudah itu bumi dia hamparkan.”[12]
Disamping pembuktian di atas, ada banyak pembuktian yang sudah di
uji kebenarannya secara ilmiah. Menurut Quraish Shihab (2001:66), banyak ayat al-Qur’an
yang berbicara hakikat-hakikat ilmiah yang sebelumnya tidak pernah di kenal
pada masa turunnya, hal itu baru di ketahui kebenarannya ketika pada masa di
tengah-tengah laju perkembangan sains modern. Misalnya:
“ teori expanding universe
(kosmos yang mengembang), realitinya telah di gambarkan dalam Al-Qur’an
surat Ad-Zariyat ayat 47; matahari merupakan planet yang bercahaya, sedangkan
bulan adalah pantulan cahaya matahari. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat
yunus ayat 5; pergerakan bumi yang mengelilingi matahari, gerakan
lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama
dengan pergerakan awan, hal ini terilustrasikan dalam al-Qura’n surat An-Naml
ayat 88; Zat hijau daun atau klorofil yang berperan dalam mengubah fotosintetis
sehingga menghasilkan energy, sebenarnya telah di paparkan dalam al-Qur’an
surat Yasin ayat 80, bahkan di dalam surat yasin ini, istilah Al-Syajar al-akhdar (pohon yang hijau)
justru lebih tepat dari pada istilah klorofil (hijau daun), mengingat zat-zat
tersebut bukan hanya terdapat di dalam daun saja, melainkan di semua bagian
pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau; penciptaan manusia yang di
ciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan setelah fertilisasi (pembuahan)
berdempet di dinding Rahim perempuan, telah di jabarkan dalam al-Qur’an surat
Ath-thoriq: 6-7 dan surat Al-Alaq ayat 2.”
Berbagai pembuktian ilmiah di atas menunjukan bahwa al-Qur’an
merupakan kitab ilahi yang tidak pernah bertentangan dengan realitas
perkembangan sains dan teknologi. Pembuktian ini sekaligus meruntuhkan filsafat
materialisme yang beranggapan bahwa alam semesta ada dalam sendirinya tanpa di
ciptakan. Filsafat inilah yang mendukung atheisme. Yang beranggapan tidakada hikmah
apapun yang dapan di peroleh dari tuhan menciptakan alam semesta.
D. Manfa’at dari penelitian ilmiah teknologi tropong Hubble
Dengan adanya
penelitian Teknologi Tropong Hubble akan semakin menambah keimanan kita
terhadap al-Qur’an bahwasanya al-Qur’an merupakan kitab suci yang di turunkan
Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw yang masih murni keasliannya dan mampuh
menjawab semua permasalahan yang ada di dunia modern ini, termasuk semua
teknologi yang ada di masa sekarang ini al-Qur’an 1400 abad yang lalu sudah
menjawab semuanyah. Selain dari itu al-Qur’an juga sebagai mu’jizat terbesar
yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw karna al-Qur’an di jaga oleh Allah
kemurniannya. Firman Allah Swt:
“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ” ( Q.S. Hijr ayat 9 ).
Dari
ayat di atas menjelaskan bahwasanya Allah Swt yang menurunkan al-Qur’an dan
menjaganyah. Diantara ulama tafsir ada yang merujukan Damir yang ada
dalam firman-Nya, “ لَحَٰفِظُونَ
” kepada Nabi Muhammad Saw., bukan kepada al-Qur’an. Yakni sama dengan pengertian
yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ
النَّاسِ
“ allah memelihara kami dari (
gangguan ) manusia. ( Al-Maidah ayat: 67 )
Selain dari itu al-Qur’an juga
sebagai petunjuk bagi manusia Allah menyatakan dalam al-Quran Q.S. Al-Baqarah
[02]: 2. Petunjuk ini masih umum termasuk petunjuk bagi manusia sehingga
manusia dapat berfikir dan mengembangkan ilmu pengetahuannya sehingga manusia
mampuh menemukan sains-sains modern yang begitu canggih dan luar biasa termasuk
ilmu Teknologi Tropong Hubble yang membuktikan kekuasaan Allah terhadap alam
semesta ini baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah di bahas dalam bab
sebelumnya maka kami selaku penulis dapat menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat
al-Qur’an merupakan petunjuk manusia tidak saja untuk kehidupan akhirat namun
juga untuk kebaikan kehidupan di dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah
salasatu sarana manusia untuk menuju kehidupan di dunia lebih baik. Oleh sebab
itu, dalam al-Qur’an pun tak luput memberikan petunjuk tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi bagi kehidupan manusia. Membuka dan membaca mushaf al-Qur’an,
kita menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk
memperhatikan bagaimana cara kerja alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat
dari 6000-an ayat al-Quran memberikan gambaran kepada manusia untuk
memperhatikan alam sekitarnya.
Seperti telah di sebutkan di bab
sebelumnya tentang penelitian teleskop hubble pada tahun 1990 ternyata di dalam
al-Qur’an 1400 tahun yang lalu telah di sebutkan seprti dalam al-Qur’an Q.S.
Ar-Rahman ayat 37, Al-Anbiya ayat 30 dan Q.S. Qaaf ayat 38. Semuanya jelas
bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah dan mampuh untuk menjawab semua
kejadian-kejadian di masa modern sekarang ini.
B. Saran
Kami menyusun makalah ini untuk pembelajaran bersama. Kami mengambil dari berbagai sumber, jadi apabila pembaca menemukan kesalahan
dan kekurangan, maka kami sarankan untuk mencari referensi yang lebih baik.
Apabila pembaca merasa ada kekurangan dapat membaca buku yang menjadi referensi
secara lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Al-mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2008. Kitab Tafsir ibnu katsir,
Jakarta:
Pustaka ibnu katsir
Kementrian Agama RI. 2009. Al-Qur’an dan tafsir ( edisi yang di
sempurnakan ),
PT. Sinergi Pustaka Indonesia
Shihab. Quraish, 2009. Dalam Tafsir Al-Mishbah ( Pesan, Kesan,
Dan Keserasian
Al-Qur’an ), Jakarta:
Lentera hati.
http://www.teknosains.id, 2017-07 Pengertian-Teleskop-Atau-Teropong.html
Az-Zuhaili. Wahbah, 2005. Tafsir al-Munir ( Aqidah, Syari’ah,
Manhaj ), Jakarta:
Gema insani.
[1] http://www.teknosains.id, 2017-07
Pengertian-Teleskop-Atau-Teropong.html
[2] Q.s Az-Zariyat
Ayat 47.
[3] Syekh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab
Tafsir ibnu katsir, pustaka ibnu katsir, 2008, hal. 544
[4] Syekh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab
Tafsir ibnu katsir, hal. 545
[5] Q.S. Ar-Rahman ayat 37
[6] M. Quraish shihab, Dalam Tafsir Al-Mishbah
( Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an ), terbitan tahun 2009, hal. 42
[7] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan tafsir
( edisi yang di sempurnakan ), PT. Sinergi Pustaka Indonesia, terbitan
tahun 2009, hal. 311
[8] Qs. Al-Alaq { 96 } Ayat : 1-5
[9] Terdapat dalam
Tafsir Al-Azhar karya buya hamka, terbitan thn 1982.
[10] Qs. Al-Qiyamah { 75 } Ayat: 3-4
[11] Qs. Ar-Rum {
30 } Ayat : 48
[12] Qs. An-Nazi’at
{ 79 } Ayat : 30
[13] Syekh
Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab Tafsir ibnu katsir, pustaka ibnu
katsir, 2008, hal. 430
Tidak ada komentar:
Posting Komentar