Minggu, 03 Juni 2018

Tantangan Al-Qur’an Untuk Melakukan Penelitian / Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble


KATA PENGANTAR

            Assalamu’alaikum .wr.wb.
            Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan Rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Tantangan Al-Qur’an Untuk Melakukan Penelitian / Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble ”tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw. keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Aamiin.
            Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang di sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw berisi pedoman, petunjuk dan sentral kendali segala wacana ideologi kehidupan untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam konteks ini, al-Qur’an sering menyebut dirinya sebagai Al-Huda ( petunjuk ), Al-Kitab ( pedoman ), Asy-Syifa ( penyembuh ), Adz-Dzikr ( peringatan ), At-Tibyan ( penjelas ), Al-Furqon ( pembeda ), dan lain-lain. Semua Nama al-Qur’an ini mengindikasikan bahwa ia adalah kitab suci yang berdimensi universal, yang mencakup segala aspek dan problem kehidupan manusia.
            Untuk itu, al-Qur’an hadir di tengan hiruk-piruk kehidupan modern ini dengan membawa solusi alternatif dan konsep pencerahan bagi semua problematika yang ada pada saat ini. Tanpa dibatasi ruang dan waktu, al-Qur’an masih tetap relevan untuk digunakan mengatasi persoalan-persoalan yang ada pada zaman modern ini dalam konteks kekinian dan ke-di-sinian. Apa yang di tawarkan oleh al-Qur’an untuk kita menghadapi zaman sekarang ini?
            Makalah ini hadir untuk memberikan jawaban bahwa kembali kepada al-Qur’an adalah solusi terbaik untuk menghadapi berbagai problem-problem zaman modern  yang tengah kita hadapi saat ini, seperti  banyaknya teori-teori sain yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an. Dengan alasan yang cerdas dan Bahasa yang ringan, makalah ini membahas berbagai tema tersebut.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini di kemudian hari. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Kami khususnya dan pembaca pada umumnya. Aamiin.
           Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.      
                                          
  Serang, 16 Maret 2018

                                                                                                Penyusun                                                 















DAFTAR ISI




BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Al-Qur’an telah menambahkan dimensi baru terhadap studi mengenai penomena jagat raya dan membantu pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi. al-Qur’an menunjukan bahwa materi bukanlah sesuatu yang kotor dan tanpa nilai, karna padanya terdapat tanda-tanda yang bimbing manusia kepada Allah serta kegoiban dan keagungannya. Alam semesta. Yang amat luas adalah ciptaan Allah, dan al-Quran mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkap keajaiban dan kegaibannya, serta berusaha memanfaatkan kekayaan alam yag melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya. Jadi al-Quran membawa manusia kepada Allah melalui ciptaannya dan realitan kongkret yang terdapat di bumi dan di langit inilah yang sesungguhnya di lakukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu: mengadakan obserpasi, lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan obserpasi dan eksperimen. Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat mencapai yang maha pencipta melalui obserpasi yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan al-Qur’an menunjukan kepada realitas intelektual yang maha besar, yaitu Allah Swt lewat ciptaanya.
Mengingkari realitas ini akan membawa manusia kepada anarkis dan kebingungan serta merampas kedamaian dan ketentraman batinnya hingga membuat mereka merasakan hidupnya berada dalam kekosongan. Mengingkari adanya Allah maha pencipta yang di lakukan para ilmuan, akan membawa mereka kepada sikap menyalahgunakan sumber-sumber kakayaan alam dari Allah maha pencipta untuk menghancurkan manusia dan nilai-nilai hidupnya mereka mengeruk sepenuhnya keuntungan materi dari karunia Allah dan menikmati kehidupan mewah yang melimpah ruah tanpa rasa syukur atas nikmat dari Allah maha pencipta; tetapi mereka tidak akan memiliki kedamaian jiwa dan kebahagiaan hakiki dalam dirinya. Kelimpahan dan kekayaan materi saja tidak akan memberikan kepuasan mental dan sepirituan kepada manusia. Pertanyaan-pertanyaan seperti: siapakah sesungguhnya kita ini dari mana kita datang dan kemana kita akan pergi apakah alam semesta ini? Siapakah yang menciptakan dan mengendalikannya? Apakah tujuan kita di ciptakan tuhan? Apakah kita ini sederajat dengan makhluk lainnya? Pertanyaan seperti ini dan pertanyaan lainnya yang serupa akan tetap tak terjawab dan terus menerus menghantui jiwa manusia dalam hidupnya.
Jika manusia akan tetap berada pada taraf hidup yang rendah seperti hidup binatang buas, kecuali bila ia telah dapat mengenal tuhannya yang menciptakannya tanpa pengenalan itu, ia makan, minum dan berkembang biak sama halnya dengan seekor binatang dan mati seperti seekor binatang pula dan merampas hak milik orang lain dengan cara kekerasan. Keadilan sosial dalam kehidupan dan penghidupan manusia pada umumnya, hanya dapat di perbaiki dan di perbaharui melalui iman kepada Allah yang maha Esa yaitu tauhid.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang di maksud dengan Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble?
2.      Bagaimanakah jawaban Al-Quran tentang Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble ?
3.      Bagaimanakah titik temu antara ilmu sains dan al-Qur’an ?
4.      Bagaimanakah manfa’at riset ilmiah Teknologi Tropong Hubble ?

C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui tujuan adanya Riset ilmiah pada tekhnologi tropong Hubble.
2.      Untuk menjelaskan bahwa Al-Qur’an menjawab semua permasalahan tentang Riset ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble.
3.      Mengetahui titik temu antara ilmu sains dan al-Qur’an.
4.      Mengetahui manfa’at dari penelitian ilmiah teknologi tropong Hubble.


















BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Teleskop atau teropong adalah sebuah instrument pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang di amati. teleskop atau tropong merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi.
Teropong besar yang ada di dunia di sebut dengan teleskop hubble. Teleskop ini berada di Observatorium Yarkes yang berada di kawasan teluk wiliam wisconin, amerika serikat. Teleskop sendiri ini mempunyai lensa obyek yang diameternya berukuran satu meter. Itulah mengapa teleskop ini mampu menangkap cahaya dalam jumlah yang besar untuk masuk kedalamnya. Teleskop hubble bisa di manfaatkan guna mengadakan pengamatan obyek secara langsung. Dimana dalam hal ini, lensa okuler akan berfungsi untuk memperbesar dan melihat bayangan yang terbentuk oleh lensa obyektif, sebagaimana halnya dalam mikroskop.[1]
Alam semesta juga layaknya manusia turut berkembang dan melakukan aktifitas. Ini merupakan pakta ilmiah yang terjadi hingga saat ini. Sebagai pembuktian, astronomi amerika Edwin Hubble mengamati antariksa menggunakan teleskop raksasa. Ia menemukan bahwa cahaya sejumlah bintang bergeser kearah ujung merak sepaktrum. Pergeseran tersebut erat kaitannya pada jarak antara bintang-bintang itu dengan bumi. Temuan ini menjadi jawaban atas teori sebelumnya yang menyebutkan bahwa ukuran tata surya setatis. Berdasarkan penelitian Edwin Hubble, artinya benda-benda ruang angkasa menjauh dari bumi.
Dalam buku al-Qur’an vs sains modern menurut Dr Zakir Naik karya ramadhani, hubble juga mengungkapkan bahwa benda-benda ruang angkasa tak hanya menjauh dari bumi, melainkan saling menjauh antara satu benda dengan yang lainnya. Dari penelitian itu di simpulkan bahwa sesuatu yang saling menjauh berarti alam semesta berkembang. Bahkan Stephem Hawking dalam bukunya,”A Brief Histori of Time” menyebutkan bahwa penemuan ilmiah alam semesta senantiasa berkembang adalah sebuah revolusi intelekual abad ke-20. Alam semesta yang berkembang rupanya telah di jelaskan dalam al-Qur’an jauh setelah manusia mengenal teleskop.
“ dan langit kami bangun dengan kekuasaan kami, dan kami benar - benar meluaskannya,”[2]
Tafsiran ayat tersebut Allah SWT berfirman seraya mengingatkan tentang penciptaan alam atas dan alam bawah. Lafadz والسماءبنيناها yang artinya dan langit itu kami bangun. (Qs Adz-zariyat: 47) Maksudnya kami menjadikannya sebagai atap yang terpelihara lagi tinggi.[3] lafadz بايد yang artinya dengan kekuatan kami. (Qs Adz-zariyat: 47) yakni dengan kekuatan, menurut ibnu abas, mujahid, qatadah, dan as-sauri serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Lafadz وانالموسعون yang artinya dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya. (Qs Adz-zariyat: 47) maksudnnya, kami jadikan cakrawalanya luas dan kami tinggikan tanpa tiang-tiang pemancang yang menopang.[4]
Terbentuknya alam semesta juga di jelaskan dalam surah Al-Anbiya Ayat 30. Ayat ini sekaligus menjelaskan bahwa penciptaannya alam semesta melalui suatu proses. Firman Allah SWT:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang  hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman.” (  Qs Al-Anbiya Ayat 30. )

B.     Ayat al-Quran tentang Riset Ilmiah Pada Teknologi Tropong Hubble

Teori riset ilmiah pada teknologi tropong hubble ini berkaitan dengan firman Allah Swt yang menjelaskan tentang penciptaan langit dan bumi bahwasanyah Allah swt Berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“ dan sungguh, kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami tidak merasa letih sedikitpun.” ( Q.S. Qaaf ayat: 38 )
Asbabun nuzul ayat ini Hakim meriwayatkan dari ibnu abbas, orang-orang yahudi menemui Rasulullah Saw, lalu bertanya tentang penciptaan langit dan bumi. Beliau menjawab, “Allah Swt menciptakan bumi pada hari ahad dan senin, menciptakan gunung-gunung berikut seluruh kemanfaatannya pada hari selasa, menciptakan pepohonan, air, kota-kota, tempat-tempat pembangunan dan yang kosong pada hari rabu, menciptakan hari pada hari kamis, sedangkan pada hari jumat menciptakan bintang-bintang, matahari, bulan hingga masih tersisa tiga waktu dari hari jumat; pada waktu pertama, dia menciptakan ajal hingga matilah orng yang mati, pada waktu yang kedua ia menghilangkan penyakit dari setiap hal yang di manfaatkan manusia, sedangkan pada waktu yang ketiga dia menciptakan adam dan menempatkannya di surga, memerintahkan iblis untuk bersujud kepada adam, dan mengeluarkan adam dari surga pada ahir saat yang ke tiga itu,”
Dalam ayat yang lain juga mejelaskan bahwasanya bumi yang Allah ciptakan dulunya menyatu sesuai dengan Firman Allah Swt:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya:
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu padu, kemudian kami pisahkan antar keduanya dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapakah mereka tiada juga beriman.” ( Q.S. Al-Anbiya ayat: 30 ).
            Hampir 14 abad lalu, ayat di atas menjadi suatu di antara firman-firman Allah Swt yang turun kepada Rasulullah Saw dengan muatan sains. Ayat tersebut menjelaskan tentang asal muasal langit dan bumi, yang mulanya satu dan kemudian di pisahkan. Menemukan jawaban tentang proses terciptanya alam semesta menjadi dahaga tersendiri bagi para ilmuan. Karena itu, mereka sejak ribuan tahun yang lalu berusaha meneliti antariksa. Di tambah, astronomi memang telah menjadi salah satu kebutuhan manusia sejak lama, terutama dalam hal napigasi serta penentuan dan pembagian waktu. Terlebih bagi muslim, astronomi berfungsi lebih jauh untuk menentukan arah ka’bah dan juga lima waktu shalat.
            Ayat di atas sesuai dengan hukum Hubble yaitu fenomena red shift ( pergeseran merah ) yang berarti galaksi semakin menjauh. Hukum ini menyatakan tentang pergeseran merah/red shift dari cahaya yang datang dari galaksi yang jauh sebanding dengan jaraknya.
Hal ini juga di sebutkan dalam Al-Qur’an Q.S. Ar-Rahman ayat 37:
lalu, apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti ( kilapan ) minyak [5]
Phenomena pergeseran merah (red shift) yaitu perubahan gelombang cahaya dari biru kemerah  yang berarti galaksi-galaksi di alam semesta bergerak semakin menjauh ( frekuensi semakin kecil ).
Bila tatapan konstanta Hubble dapat di tetapkan untuk menghitung kecepatan pengembangan alam semesta maka kita dapat menghitung mundur untuk menentukan awal dari pengembangan alam semesta (big bang). Maka dari itu Hubble kemudian dapat menghitung umur alam semesta berdasar konstanta yang di hitungnya.
Langit dengan segala benda-benda angkasa yang terdapat di sana, keadaannya pun seperti keadaan satuan-satuan yang berada di bumi. Benda-benda langit dan bumi tempat kita berpijak demikian juga halnya. Hanya saja, karena keterbatasan usia, kita tidak bisa menyaksikan keadaan langit dan bumi seperti apa yang kita saksikan pada bagian-bagian kecilnya. Kita tidak dapat menyaksikan pembentukan dan kehancurannya, tetapi betapapun demikian, harus di akui bahwa baik planet-planet di bumi, serta bagian-bagiannya yang tekecil semua adalah materi sehingga semua yang kecil atau yang besar secara umum sama dalam hukum-hukumnya. Demikian kurang lebih Thabathabai, yang kemudian berkesimpulan bahwa terulangnya berkali-kali apa yang kita lihat pada perincian benda-benda atau kehidupan dan kematian apa yang terdapat di bumi dan di langit, menunjukkan bahwa suatu ketika langit dan bumi pernah merupakan satu kesatuan (gumpalan) tanpa pemisahan bumi dari langit kemudian atas kehendak Allah Swt, keduanya di pisahkan, atas kehendak dan di bawah pengaturan dan kendali Allah sang Pencipta Agung itu.[6]
Ayat ini di pahami oleh sementara ilmuan sebagai salah satu mukjizat al-Qur’an yang mengungkapkan peristiwa penciptaan planet-planet. Banyak teori ilmiah yang di kemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukti yang cukup kuat, yang menyatakan bahwa tadinya langit dan bumi merupakan satu gumpalan atau yang di istlilahkan oleh ayat ini dengan ( رتقا ( ratqan, lalu gumpalan itu berpisah sehingga terjadilah pemisahan antara bumi dan langit. Memang, kita tidak dapat memperatasnamakan al-Qur’an mendukung teori tersebut. Namun, agaknya tidak ada salahnya teori-teori itu memperkaya pemikiran kita untuk memahami maksud firman Allah di atas.
Firman Allah Swt :
فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ
“ maka apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilapan minyak. “ ( Q.S. Ar-Rahman ayat 37 )
QS. Ar-Rahman Ayat 37 diatas menggambarkan ledakan sebuah bintang. Gambaran mengenai ledakan tersebut dikonfirmasi oleh ilmu pengetahuan modern. Ledakan bintang yang demikian ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Fenomena alam ini juga tidak dapat ditangkap dengan menggunkan tropong bintang biasa. Diperlukan tropong bintang canggih skaliber “hubble space super telescope” yang dimiliki oleh NASA,  suatu Lembaga antariksa amerika, Namun hal ini sudah digambarkan dalam al-Qur’an secara jelas pada1400 tahun yang lalu, dengan kemajuan tekhnologi, ternyata apa yang diuraikan dalam al-Qur’an, terbukti secara detail ledakan yang terjadi memang sangat mirip dengan bunga mawar merah yang sedang berkembang.
Ledakan bintang atau di sebut dengan istilah supernova, adalah sebuah bintang raksasa yang “ menghancurkan diri sendiri “ dalam ledakan dahsyat. Materi intinya akan bertebaran keseluruh penjuru. Cahaya yang di hasilkan dalam peristiwa ini ribuan kali lebih terang dari pada keadaan normal.
Para ilmuan masa kini menganggap bahwa supernova memainkan peran penting dalam penciptaan alam semesta. Ledakan ini menyebabkan unsur atau materi yang berbeda-beda berpencar dan berpindah kebagian lain alam semesta. Di asumsikan bahwa materi yang di lontarkan ledakan ini kemudian bergabung untuk membentuk galaksi atau bintang baru di bagian lain alam semesta. Menurut hipotesis, tata surya kita, matahari dan planetnya termasuk bumi, merupakan produk supernova yang terjadi dahulu kala. Meskipun supernova tanpa seperti ledakan biasa, pada kenyataannya, ledakan tersebut sangat tersetruktur dalam setiap detailnya. Jarak antar supernova, dan bahkan antar semua bintang, sangat penting untuk alasan yang lain. Jarak antar bintang dalam galaksi kita adalah sekitar 30 juta tahun cahaya. Jika jarak ini lebih dekat, orbit planet-planet akan tidak stabil. Jika lebih jauh maka debu hasil supernova akan tersebar begitu acak sehingga sistem planet seperti tata surya kita tidak mungkin pernah terbentuk. Jika alam semesta menjadi rumah bagi kehidupan, maka kedipan supernova harus terjadi pada lajur yang sangat tepat dan jarak rata-rata di antaranya harus sangat dekat yang teramati sekarang.
perbandingan antara supernova dan jarak antar bintang hanyalah dua rincian yang sangat selaras pada alam semesta yang penuh keajaiban. Mengamati lebih teliti alam semesta, maka pengaturannya akan terlihat begitu indah, baik dalam rancangan maupun susunannya.[7]

C.    Titik temu antara ilmu sains modern dan agama persefektif al-Qur’an

Al-Qur’an di turunkan oleh Allah pada empat belas abad yang lalu. Al-Qur’an bukan buku ilmiah, tetapi kitab ini mencakup beberapa penjelasan ilmiah yang tidak pernah bertentangan dengan temuan-temuan sains modern. Fakta-fakta tertentu yang baru di tentukan, teknologi abad ke-20 itu sebenarnya telah di ungkapkan dalam Al-Qur’an sejak empat belas abad yang silam. Ini menunjukan bahwa terdapat titik temu antara sains dan agama. Dengan kata lain, Al-Qur’an memandang terdapat hubungan erat antara sains dan agama, serta keduanya tidak terjadi saling berkontradiksi.
Al-Qur’an bukanlah kitab sains. Tetapi ia memberikan pengetahuan tentang dasar-dasar dan  prinsip-prinsip sains, yang salalu di kaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Tanda-tanda bahwa Al-Qur’an sebagai kitab yang membuat ide-ide ilmiah dan prinsip-prinsip sains itu, telah tergambar dari wahyu yang pertama di turunkan Allah kepada nabi Muhammad SAW.:
bacalah dengan ( menyebut nama ) tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajar ( manuisa ) dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya."[8]
Kata “ iqro “ pada awal surat, merupakan permulaan dibukanya wacana ilmiah. “ iqro “ pada ayat tersebut tidak sekedar bermakna membaca huruf (etimologi). Tetapi juga bermakna umum. Membaca di sana maksudnya meneliti, mengamati, membaca akan tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis atau tidak tertulis.
Al-Qur’an menyuruh manusia untuk “ membuka mata “ membaca segala fenomena, berfikir yang dalam kemudian berbuat sesuatu yang nyata. Dalam melakukan semuanya itu, dengan kalimat “ bismi robbika “ memberikan pesan yang dalam bahwa manusia tidak akan pernah dapat lepas dari penguasaan Allah SWT. Apapun yang akan di perbuat manusia maka Allah akan selalu di sekitarnya; melihat, mendengar, dan merasakan apapun yang ada pada diri manusia.
Buya hamka mengatakan bahwa “ bismi robbika “ mengandung pengertian kudrot dan irodat Allah. Yaitu ketentuan dan kepastian dari Allah. Manusia tidak memiliki kekuatan sedikitpun, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah.[9] 
Kemudian pada ayat selanjutnya, Al-Qur’an mengajak berdialog dengan manusia tentang fenomena alam. Al-Qur’an merangsang manusia untuk berfikir dengan otaknya tentang penciptaan (asal mula) manusia. Kalimat “ khalaqal insana min ‘alaq (penciptaan manusia dari segumpal darah)” merupakan wacana baru pada saat itu dikalangan orang-orang quraisy. Rasio mereka belum ada yang berfikir kearah itu. Pada ayat berikutnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia bisa saja memperoleh jawabannya dengan bantuan Allah. Menurut Quraish shihab Allah mengajarakan manusia dengan dua cara, yaitu Allah mengajar dengan penanya (alam semesta) dan mengajar dengan tanpa pena (wahyu atau intuisi).
Selanjutnya, seiring dengan perjalanan hidup manusia, bukti bahwa Al-Qur’an sebagai kitab sumber ilmiah dan inspirasi sains modern semakin jelas. Penemuan-penemuan baru tentang kosmologi alam semesta merupakan bukti shohih bahwa Al-Qur’an mukjizat yang mampu membuktikan kebenaran-Nya. Untuk menelusuri pandangan Al-Qur’an tentang sains, mau tidak mau, mengundang kita menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya. Menurut sebagian ulama terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi dan fenomenannya. Dan menurut penelitian sementara, tidak kurang dari 28 ilmu terdapat dalam Al-Qur’an (ghulsyani, 1988:62). Hal ini menunjukan bahwa logika Al-Qur’an tidak pernah bertentangan dengan penemuan sains modern. Bahkan belakangan ini, begitu banyak penemuan-penemuan ilmiah yang juga di temukan konsepnya dalam Al-Qur’an.
Ada banyak penemuan sains mutakhir yang menyingkap kitab suci terakhir yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ini, antara lain:
1.      Pada tahun 1925, ahli astronomi amerika, Edwin Hubble memberikan bukti penelitian bahwa ternyata alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebetulnya tidak ada. Teori ini di sebut teori ledakan dahsyat (big bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini pada mulanya terjadi dengan peledakan. Teori ledakan dahsyat itu menunjukan bahwa pada mulanya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian yang kemudian terpisah-pisah. Kenyataan yang di tunjukan oleh teori ledakan dahsyat ini, dinyatakan dalam Al-Qur’an pada empat belas abad yang lalu, ketika manusia memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang alam semesta.
2.      Setelah penelitian yang dilakukan oleh Prancis Golt pada 1880, sidik jari menjadi metode latihan identifikasi. Tidak ada dua ornag di dunia ini yang mempunyai pola sidik jadi yang sama, itulah alasan kepolisian di seluruh dunia menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi penjahat. Pada 1400 tahun yang lalu, apakah kita mengenal keunikan dari setiap sidik jari manusia? Sungguh pasti, tidak ada selain Allah yang maha pencipta. Pada abad ke tujuh, Al-Qur’an menunjukan bahwa ujung jadi manusia mengandung karakteristik penting, Firman Allah SWT :
apakah manusia mengira bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bahkan kami mampu menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna,”[10]
3.      Frof. Dr. Keith Moore, Frofesor ilmu janin dan pimpinan departemen anatomi di universitas Toronto, Canada. Setelah berhati-hati menguji terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an ia tidak biasa berkomentar banyak dan hanya berkata bahwa informasi tentang ilmu janin yang tersebut dalam Al-Qur’an sangat cocok dengan penemuan - penemuan modern di bidang ilmu janin, dan beberapa ayat dalam Al-Qur’an telah menjeaskan dengan sangat jelas dan sempurna. More memberikan bukti bahwa jenis kelamin suatu janin di tentukan oleh sifat alami sperma, bukan telur. Jenis kelamin anak wanita atau laki-laki bergantung pada pasangan kromosom ke 23, iyalah XX atau XY berturut-turut. Penentuan kelamin terutama pada pembuahan dan bergantung pada tipe kromosom kelamin sperma yang membuahi satu telur. Jika yang membuahi telur adalah X, janin itu adalah wanita; dan jika sperma adalah Y, maka janin itu adalah laki-laki;. Dalam suatu ayat dinyatakan bahwa keperiaan atau kewaitaan itu ternyata dari mani; dengan kata lain, sumber jenis kelamin itu bukan perempuan melainkan laki-laki.
dan sesungguhnya dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan; dari air mani apabila di pancarkan.”

4.      Pada 1580, Bernad Palisy adalah manusia pertama yang menguraikan kosep ‘siklus air. Ia menggambarkan air menguap dari samudra dan kemudian membentuk awan. Awan kemudian bergerak ke bumi, lalu naik memadat dan jatuh sebagai hujan. Menurutnya, pembentukan hujan berlangsung pada tiga tahap. Mula-mula, “ Bahan baku “ hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk, dan akhirnya curahan hujan terlihat. Tahap-tahap ini di tetapkan dengan jelas dalam Al-Qur’an berabad-abad yang lalu, yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan
Allah lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentngkannya di langit menurut yang dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal - gumpal, lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah - celahnya, maka apabila dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dia kehendaki, tiba-tiba mereka bergembira.[11]
5.      Pada awalnya orang-orang percaya bahwa bumi adalah rata. Selama berabad-abad manusia ketakutan untuk menanggung resiko terlalu jauh agar mereka tidak perlu jatuh di tepi. Sir prancis drake orang pertama yang membuktikan bahwa bumi adalah bulat dengan pelayarannya tahun 1597. Tetapi jauh sebelum penemuan tersebut, Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa bentuk bumi itu geo-spherical, yaitu bulat yang di hamparkan pada kutub-kutub. Firman Allah SWT :
والارض بعد ذلك دحها
dan sesudah itu bumi dia hamparkan.[12]
Disamping pembuktian di atas, ada banyak pembuktian yang sudah di uji kebenarannya secara ilmiah. Menurut Quraish Shihab (2001:66), banyak ayat al-Qur’an yang berbicara hakikat-hakikat ilmiah yang sebelumnya tidak pernah di kenal pada masa turunnya, hal itu baru di ketahui kebenarannya ketika pada masa di tengah-tengah laju perkembangan sains modern. Misalnya:
teori expanding universe (kosmos yang mengembang), realitinya telah di gambarkan dalam Al-Qur’an surat Ad-Zariyat ayat 47; matahari merupakan planet yang bercahaya, sedangkan bulan adalah pantulan cahaya matahari. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat yunus ayat 5; pergerakan bumi yang mengelilingi matahari, gerakan lapisan-lapisan yang berasal dari perut bumi, serta bergeraknya gunung sama dengan pergerakan awan, hal ini terilustrasikan dalam al-Qura’n surat An-Naml ayat 88; Zat hijau daun atau klorofil yang berperan dalam mengubah fotosintetis sehingga menghasilkan energy, sebenarnya telah di paparkan dalam al-Qur’an surat Yasin ayat 80, bahkan di dalam surat yasin ini, istilah Al-Syajar al-akhdar (pohon yang hijau) justru lebih tepat dari pada istilah klorofil (hijau daun), mengingat zat-zat tersebut bukan hanya terdapat di dalam daun saja, melainkan di semua bagian pohon, dahan dan ranting yang warnanya hijau; penciptaan manusia yang di ciptakan dari sebagian kecil sperma pria dan setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding Rahim perempuan, telah di jabarkan dalam al-Qur’an surat Ath-thoriq: 6-7 dan surat Al-Alaq ayat 2.”
Berbagai pembuktian ilmiah di atas menunjukan bahwa al-Qur’an merupakan kitab ilahi yang tidak pernah bertentangan dengan realitas perkembangan sains dan teknologi. Pembuktian ini sekaligus meruntuhkan filsafat materialisme yang beranggapan bahwa alam semesta ada dalam sendirinya tanpa di ciptakan. Filsafat inilah yang mendukung atheisme. Yang beranggapan tidakada hikmah apapun yang dapan di peroleh dari tuhan menciptakan alam semesta.

D.    Manfa’at dari penelitian ilmiah teknologi tropong Hubble

Dengan adanya penelitian Teknologi Tropong Hubble akan semakin menambah keimanan kita terhadap al-Qur’an bahwasanya al-Qur’an merupakan kitab suci yang di turunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw yang masih murni keasliannya dan mampuh menjawab semua permasalahan yang ada di dunia modern ini, termasuk semua teknologi yang ada di masa sekarang ini al-Qur’an 1400 abad yang lalu sudah menjawab semuanyah. Selain dari itu al-Qur’an juga sebagai mu’jizat terbesar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Saw karna al-Qur’an di jaga oleh Allah kemurniannya. Firman Allah Swt:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
            Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya ” ( Q.S. Hijr ayat 9 ).
            Dari ayat di atas menjelaskan bahwasanya Allah Swt yang menurunkan al-Qur’an dan menjaganyah. Diantara ulama tafsir ada yang merujukan Damir yang ada dalam firman-Nya, “ لَحَٰفِظُونَ ” kepada Nabi Muhammad Saw., bukan kepada al-Qur’an. Yakni sama dengan pengertian yang terdapat di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ
            allah memelihara kami dari ( gangguan ) manusia. ( Al-Maidah ayat: 67 )
            Tetapi makna yang pertama lebih utama karema bersesuaian dengan makna lahiriah konteks ayat.[13]
            Selain dari itu al-Qur’an juga sebagai petunjuk bagi manusia Allah menyatakan dalam al-Quran Q.S. Al-Baqarah [02]: 2. Petunjuk ini masih umum termasuk petunjuk bagi manusia sehingga manusia dapat berfikir dan mengembangkan ilmu pengetahuannya sehingga manusia mampuh menemukan sains-sains modern yang begitu canggih dan luar biasa termasuk ilmu Teknologi Tropong Hubble yang membuktikan kekuasaan Allah terhadap alam semesta ini baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

 


















BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Setelah di bahas dalam bab sebelumnya maka kami selaku penulis dapat menarik kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Qur’an merupakan petunjuk manusia tidak saja untuk kehidupan akhirat namun juga untuk kebaikan kehidupan di dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah salasatu sarana manusia untuk menuju kehidupan di dunia lebih baik. Oleh sebab itu, dalam al-Qur’an pun tak luput memberikan petunjuk tentang ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan manusia. Membuka dan membaca mushaf al-Qur’an, kita menemukan ratusan ayat yang membicarakan tentang petunjuk untuk memperhatikan bagaimana cara kerja alam dunia ini. Tidak kurang dari 700 ayat dari 6000-an ayat al-Quran memberikan gambaran kepada manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya.
Seperti telah di sebutkan di bab sebelumnya tentang penelitian teleskop hubble pada tahun 1990 ternyata di dalam al-Qur’an 1400 tahun yang lalu telah di sebutkan seprti dalam al-Qur’an Q.S. Ar-Rahman ayat 37, Al-Anbiya ayat 30 dan Q.S. Qaaf ayat 38. Semuanya jelas bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah dan mampuh untuk menjawab semua kejadian-kejadian di masa modern sekarang ini.

B.     Saran

Kami menyusun makalah ini untuk  pembelajaran bersama. Kami mengambil dari berbagai sumber, jadi apabila pembaca menemukan kesalahan dan kekurangan, maka kami sarankan untuk mencari referensi yang lebih baik. Apabila pembaca merasa ada kekurangan dapat membaca buku yang menjadi referensi secara lengkap.



DAFTAR PUSTAKA


Al-mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2008. Kitab Tafsir ibnu katsir, Jakarta:
Pustaka ibnu katsir
Kementrian Agama RI. 2009. Al-Qur’an dan tafsir ( edisi yang di sempurnakan ),
PT. Sinergi Pustaka Indonesia
Shihab. Quraish, 2009. Dalam Tafsir Al-Mishbah ( Pesan, Kesan, Dan Keserasian
Al-Qur’an ), Jakarta: Lentera hati.
http://www.teknosains.id, 2017-07 Pengertian-Teleskop-Atau-Teropong.html
Az-Zuhaili. Wahbah, 2005. Tafsir al-Munir ( Aqidah, Syari’ah, Manhaj ), Jakarta:
Gema insani.




[1] http://www.teknosains.id, 2017-07 Pengertian-Teleskop-Atau-Teropong.html
[2] Q.s Az-Zariyat Ayat 47.
[3]  Syekh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab Tafsir ibnu katsir, pustaka ibnu katsir, 2008, hal. 544
[4]  Syekh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab Tafsir ibnu katsir, hal. 545
[5]  Q.S. Ar-Rahman ayat 37
[6]  M. Quraish shihab, Dalam Tafsir Al-Mishbah ( Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an ), terbitan tahun 2009, hal. 42
[7]  Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan tafsir ( edisi yang di sempurnakan ), PT. Sinergi Pustaka Indonesia, terbitan tahun 2009, hal. 311
[8]  Qs. Al-Alaq { 96 } Ayat : 1-5
[9] Terdapat dalam Tafsir Al-Azhar karya buya hamka, terbitan thn 1982.
[10]  Qs. Al-Qiyamah { 75 } Ayat: 3-4
[11] Qs. Ar-Rum { 30 } Ayat : 48
[12] Qs. An-Nazi’at { 79 } Ayat : 30
[13] Syekh Shafiyyurrahman Al-mubarakfuri,Kitab Tafsir ibnu katsir, pustaka ibnu katsir, 2008, hal. 430

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

الرقيه الشرعيه

Pengertian menurut kaidah syar'i :Ruqyah Syariah adalah sebuah terapi pengobatan dengan cara membacakan ayat-ayat suci Alquran dan do...